Awalnya aku ragu walau sekedar
untuk melangkah ke kelas. Tak banyak yang ada di luar. Mungkin ada tugas hingga
teman-teman sekelas tak menyadari bahwa aku hanya berdiri di dekat pintu. Menggenggam erat tali tasku. Merapatkan telapak kaki ke lantai. Menundukkan kepala dan menggigit bibir bawahku
sendiri. Benarkah tak apa jika aku masuk? Apa aku sudah siap bertemu dengan
Tora atau bahkan Fara? Ugh! Aku benci suasana ini!
Showing posts with label Reason. Show all posts
Showing posts with label Reason. Show all posts
Tuesday, January 14, 2020
Boneka Pisang
Satu minggu aku tidak ke kampus.
Satu minggu pula kunonaktifkan hpku. Aku tak ingin diganggu siapapun, termasuk
mama dan papa sekalipun. Kukunci diriku sendiri di kamar. Makan pun sekenanya.
Sekarang kurasa aku tak perlu diet. Karena berat badanku pasti turun banyak sekali.
Bukan Siapa-Siapa
Semester 3 terlewat dengan sangat
mengangumkan. Berkali-kali kuumpati pada hatiku sendiri, apa maunya. Kenapa
banyak laki-laki yang datang dan dengan mudah menaklukkannya? Dan di saat yang
sama pula, mereka lebur bagai debu tersiram air.
Pengakuan
Matahari baru saja merangkak ke
kaki langit. Mataku lengket dan terasa panas sekali. Kurasakan badanku berat
sekali. Kepalaku terasa pusing saat aku beranjak duduk. Ah… badanku demam.
Hujan Malam Hari
Kuliah kami selesai lebih awal
hari ini. Jam kedua dosen tidak masuk. Tadinya aku berniat pulang saja. Tapi,
Farra dan Sati menggandengku ke sekretariat.
Ah, periode magang kami sudah
selesai. Sekarang kami menjadii pengurus. Tentunya harus lebih sering ke
sekretariat. Terlebih Farra yang sekarang menjabat menjadi wakil sekretaris
umum. Sedangkan aku dan Sati hanya sebagai anggota bidang saja. Termasuk Wawan
dan Tora yang juga akhirnya ikut berkumpul di sini. Kami berempat memang jarang
berkumpul di rumahku lagi. Sekarang basecamp kami pindah di sini. Tak
pernah sehari pun terlewat untuk mengunjungi sekretariat.
Gambar
Kafe teman papa itu ada di Teluk.
Tak jauh dari Bundaran Gajah. Jaraknya sekitar 9 km dari rumah. Papa bawa
mobil, seharusnya bisa sampai lebih
cepat. Tapi, karena malam ini cukup ramai, kami baru sampai setelah 30
menit. Banyak sekali karangan bunga ucapan selamat. Pita-pita dan balon-balon
menjadi dekorasi utama. Karena semuanya terbuat dari kaca, bisa terlihat sudah
banyak sekali orang di dalam. Banyak lampu warna-warni, tapi tak begitu
menganggu pandangan mata. Papa menggandengku masuk. Sampai-sampai aku tak
sempat mengingat nama cafenya tadi.
Tentang Brian
Kubanting tubuhku di atas kasur.
Remot AC di atas meja lampu tidur kuraih dengan susah payah. Kuhidupkan.
Pelan-pelan kurasakan belaian sejuk darinya. Hah… nikmat sekali.
Hukum untuk Sahabat Jadi Cinta
Untuk pertama kalinya, inilah
saat-saat paling canggung saat kami bersama. Bahkan, kesan pertama kami bertemu
rasanya lebih bersahabat. Kami duduk berkumpul, seperti biasa. Aku, Farra dan
Tora duduk berderet di depan. Aku yang paling dekat dengan tembok. Sati akan
duduk di belakangku, dan Wawan tepat di belakang Tora. Akan ada satu orang
sebagai pembatas antara Sati dan Wawan. Tapi sekarang, rasanya bukan hanya
orang yang membatasi mereka berdua. Tapi tembok besar sekali. Tembok Besar
China mungkin yang ditaruh di sana. Padahal, biasanya mereka saling mengobrol
meski berjauhan. Tapi sekarang, mereka berdua bungkam. Dan macam batuk,
virusnya cepat sekali menjarah ke arah kami bertiga.
Aku Menyukaimu Tanpa Alasan!
“Ho… dibales! Dibales! Mia! Liat,
nih! Bbm gue dibales sama Kak Dedi!” seru Farra begitu senangnya. Kuberi
senyuman palsu padanya. Yah, sebenarnya aku sedikit cemburu. Tentu saja!
Walaupun aku belum sepenuhnya menyukai Kak Dedi, tapi kan aku duluan yang mulai
tertarik padanya. Hah… mungkin salahku juga karena aku tak memberitahu Farra
duluan, kenapa aku tertarik untuk ikut hima.
Terhenti, Langkah Keduaku
Semester dua! Ini semester baru,
dan ceritaku harus baru! Lupakan soal kisah cinta yang kandas menyebalkan di
semester lalu! Aku akan mulai serius mencari cinta… eh! Maksudku mencari nilai
yang lebih baik di semester ini. IP semester kemarin lumayan besar, 3, 92.
Kalau saja aku bisa mempertahankannya, maka cumlaude bisa kugondol
setelah lulus dari sini.
Bruk! Aw! Kenapa ini?
Kenapa setiap aku melangkah dengan senyuman di awal masuk kuliah selalu saja
ada yang menabrakku.
“Liat-liat dong kalo ja…”
Retak, Bukan Patah
Hah… di luar hujan. Papa dan mama
juga belum pulang. Besok tidak ada tugas. Jadi aku menganggur. Saatnya mengisi
blogku. Sambil menunggu kedatangan dua orang yang sangat kusayangi itu. Yah…
itu pun kalau aku tak ketiduran duluan.
Jantungku!
“Ahahaha… apa barusan? Komunitas
apa? Komunitas anti reason? Hahaha….” Brian tak berhenti-berhenti tertawa.
Kutarik-tarik ujung kaos olahraganya agar berhenti. Sambil kupasang wajah
cemberutku agar dia mau diam.
Komunitas Anti Reason
“Gak usah kali, Pa.”
“Loh, kenapa? Kamu ya,
mentang-mentang udah gede, maunya semuanya sendirian. Padahal kamu kan baru
kemaren dapet KTP-nya, Sayang. Papa ni enggak rela loh kalo kamu gede terlalu
cepet, loh. Udah, deh. Papa kan cuma mau jemput kamu. Apa sih salahnya?”
I Need You Reason
Ini kisahku. Kuawali dari sebuah
kisah ketika aku menjejakkan kakiku di sebuah lingkungan baru bernama kampus.
Aku anak tunggal. Jadi, aku tak punya saudara untuk mengenal apa itu kampus.
Yang aku tahu tentang kampus hanya semua yang sering dimunculkan di tv-tv itu. Ke
kampus, dengan segala jenis pakaian bebasnya, mobil, tugas, dosen, dan… pacar.
Subscribe to:
Posts (Atom)