Tuesday, January 14, 2020

Pengakuan


Matahari baru saja merangkak ke kaki langit. Mataku lengket dan terasa panas sekali. Kurasakan badanku berat sekali. Kepalaku terasa pusing saat aku beranjak duduk. Ah… badanku demam.

“Eh, udah bangun?” mama mengintip dari pintu. Aku hanya tersenyum. Ini hanya demam sedikit. Sebaiknya aku langsung minum obat biar sakitnya tak tambah parah. Tak perlu mengeluh pada mama soal ini.

Karena melihatku sudah bangun, mama tak jadi masuk. Syukurlah. Sebaiknya kucari obat demam sekarang. Tak masalah belum sarapan juga. Sarapannya ditaruh di akhir saja. Yang penting demamku tak tambah parah dulu. Masih ada sisa air minum di gelas. Kuteguk bersama satu buah pil penurun panas.

Selesai minum obat, aku berniat keluar dari kamar. Tapi langkahku terhenti melihat cermin. Kulihat diriku sendiri di cermin. Ya, ampun! Aku kacau sekali. Mataku bengkak dan rambutku acak-acakan. Kukucek-kucek mataku, berharap sakitnya sedikit berkurang. Giliran aku membuka mata, ada bayangan Tora di cermin. Aku mendelik lantas langsung teringat kejadian semalam.

Aku memeluk Tora, hingga lama sekali. Tora melepaskan pelukanku dan tiba-tiba menatapku selama aku memeluknya. Tangannya terulur mengusap pipiku pelan. Dan sekali lagi ia memelukku. Oh! Ya, Tuhan! Yang semalam itu bukan mimpi! Bukan mimpi! Benar-benar terjadi! A, apa yang harus kulakukan?

Cekrek!

“Hah!!!” teriakku kaget mendengar pintuku dibuka. Mama masuk begitu saja. Tak hanya aku, mama pun nampaknya juga sama terkejutnya denganku.

“Kamu nih kenapa, sih? Ngagetin mama aja!” sentak mama. Tapi mama tak jadi memarahiku. “Mata kamu kenapa?” tanyanya. Ah, mama memegang pipiku. “Ya, ampun! Badan kamu panas!” nah, mulai deh paniknya. Padahal tadi aku sudah senang karena mama tak jadi masuk ke kamarku.

“Ke dokter, ya?” tawar mama.

“Enggak usah, Ma. Ini cuma panas biasa, kok. Bentar lagi juga sembuh.”

“Tapi, kan…”

“Udah, Ma. Mama kan tahu Mia jarang sakit. Minum obat demam juga nanti sembuh, kok.”

“Beneran?”

“He’em,” kuanggukkan kepalaku, meyakinkan mama. Agak susah memang sih dirayu, tapi akhirnya mama menyerah.

“Ya, udah. Mama mau ke pasar dulu sama Mbak Imah, ya? Itu sarapannya mama bikin nasi goreng.” Sekali lagi aku mengangguk. Barulah mama pergi. Aku langsung ke ruang makan. Sepiring nasi goreng sudah ada di sana. Baru setengah piring kuhabiskan, baru aku sadar. Kenapa rumah ini sepi sekali? Papa ke mana? Apa papa mengantar mama ke pasar?

Coba kulihat mobilnya ada di depan atau tidak. Kalau tidak ada, berarti benar papa mengantar mama. Papa kan orangnya paling malas, jadi rasanya tak mungkin kalau papa mau pergi jogging ke luar. Daripada jogging pasti papa memilih tidur sampai jam dua belas siang. Dan suara mama akan melengking mengomeli papa.

Aku berhenti di ruang tamu. Belum sempat keluar karena kurasa ada seseorang yang duduk di sofa sebelah kananku. Aku menoleh. Mataku mendelik melihat Andre dengan jaket dan jeans panjang sudah duduk di sana. A, Andre?

Benar, itu Andre. Dia diam, menatapku dari kaki sampai kepala. Aku baru sadar, aku masih memakai piama. Rambutku saja belum kusisir. Bahkan aku belum gosok gigi dan cuci muka.

“Akh!!!” teriakku. Secepat kilat aku pergi dari sana. Masuk ke kamar dan mencari baju yang agak-agak pas untuk kukenakan. Kurapikan rambutku dengan sisir dengan kecepatan maksimum. Cari tisu basah untuk mengelap wajah kumalku. Untuk masalah mulut, sepertinya aku masih punya permen karet mint di tasku. Nah, ini dia. Kukunyah secepatnya dan langsung kubuang. Tak lucu kan kalau aku keluar masih mengunyah permen karet.

Selesai. Aku kembali ke ruang tamu. Aku agak tersengal karena daritadi lari-lari. Ya, Tuhan! Jantungku hampir melompat keluar. Nasi goreng yang tadi kumakan rasanya sedang menghentak-hentak di perutku. Mau muntah, hmph! Tapi kutahan. Sialnya, dia kembali menatapku. Hanya menatapiku tanpa ada sepatah katapun.

“Ma, mau ngapain ke sini?” tanyaku lebih dulu. Masih berdiri.

“Enggak usah ke-PD-an dulu, deh. Pake ganti baju segala lagi.” Hmph! Apa katanya tadi? Dan tadi itu dia menyeringai, kan? Ah! Orang ini kenapa sebenarnya? Pagi-pagi sudah membuat orang kesal saja!

“Gue ke sini buat nemuin bokap elo, bukan elo,” lanjutnya.

Glek! Apa yang baru saja kulakukan? Kulirik tas kecil di dekat kakinya. Ada beberapa dokumen di dalamnya. Ah, ya! Benar juga! Kenapa juga dia ke sini? Dia kan tidak punya alasan apapun untuk menemuiku. Bertemu dengan papa adalah hal yang paling mungkin untuk membawa seorang Andre kemari. Ah… wajahku memanas. Bukan, bukan panas karena demam. Tapi karena malu. Ah… aku sungguh malu!

“Maaf ya, An. Lama, ya? Jalannya rame banget!” tiba-tiba papa muncul dari luar. “Oh, kamu udah bangun, Sayang? Tumben!” papa! Apa maksud kata tumben barusan? Padahal papa yang selalu bangun siang di hari minggu. Kulirik Andre, bermaksud melihat ekspresinya. Dia hanya diam saja. Apa yang ada di pikirannya sekarang, hah? Ugh! Sebaiknya aku pergi dari sini!

“Oh, ya, Sayang. Kamu ke belakang, sekalian bikinin minum buat Andre, ya?” papa malah menunda langkahku.

“Kok Mia sih, Pa?”

“Loh… gimana, sih? Cuma bikinin minum buat temen sendiri masa enggak mau? Lagian… Mbak Imah kan lagi ke pasar sama Mama.”

Berat hati, sih. Tapi masa iya aku mau menolak permintaan papa. Huh! Kenapa pula aku harus membuatkan minum untuk orang menyebalkan itu?

Ada jus jeruk kotak di kulkas. Ini saja. Kutuangkan ke dalam dua gelas. Satu untuk papa dan satu untuknya. Kuantar ke depan dan otomatis obrolan papa dan Andre berhenti. Sesekali aku melirik ke arahnya. Ternyata ia memperhatikanku. Tidak, aku tak salah tingkah. Malah kupelototkan mataku padanya. Alisnya terangkat, seolah bertanya, “Apa, sih?”

“Makasih ya, Sayang,” ujar papa. Kubalikkan badan, lalu pergi dari sana. Aku tak perlu di sana lagi, kan?

Sementara papa dan Andre mengobrol di ruang tamu, aku kembali ke meja makan. Menghabiskan sarapanku yang masih setengah. Tapi tak lama, papa sudah masuk dan menghampiriku.

“Andre ngapain tadi ke sini, Pa?” tanyaku. Baru saja nasi gorengku habis.

“Om Azril keluar kota. Ada beberapa berkas yang dititipin ke Papa buat disetorin hari ini,” jelas Papa. Segelas air putih diteguknya habis. Mendengar penjelasan itu, aku hanya mengangguk.

“Kamu ni enggak deket sama Andre ya, Sayang?” tanya papa kemudian. Belum sempat kujawab, hp papa berbunyi. Ada yang menghubunginya. Syukurlah. Aku tak perlu menjawab pertanyaan tadi.
Kini giliran hpku yang berbunyi. Ada bbm masuk. Dari Tora.

Udah baikan? Tulisnya. Hah… harus kubalas apa? Sekarang aku benar-benar malu. Bahkan sejak tadi masih kuingat-ingat, akhir dari kejadian semalam apa, ya? Juga, tujuan Tora datang ke sini tiba-tiba semalam itu apa? Aku sama sekali tak ingat. Padahal, rasanya Tora sudah mengatakannya padaku.

Ya. Makasih buat semalem. Balasku. Hanya diread. Kupikir dia akan bertanya lebih. Tapi rasanya tidak. Biarlah. Mungkin dia hanya mengkhawatirkanku saja. Bagaimana besok aku menemuinya, ya? Pasti akan canggung sekali.

***

Tap! Langkahku terhenti. Sial! Kenapa aku berpapasan dengan Tora seperti ini di pintu? Sejak tadi pagi padahal aku sudah tidak bertemu dia. Dan mata kuliah pertama tadi dia juga absen. Bertemu denganya seperti ini rasanya canggung sekali. Kami hanya saling menatap dan bingung bicara apa.
Aku menunduk. Kuambil langkah kiri, bermaksud menghindarinya tapi dia malah menutup lagi langkahku. Aku ke kanan, dia juga ikut ke kanan. Aku kembali ke kiri dia ikutan ke kiri. Ya, ampun! Kami ini kenapa?

Akhirnya Tora yang mengalah. Dia menepi dan membiarkanku keluar kelas. Dia sendiri masuk setelahnya. Aku sempat menoleh ke belakang, tapi dia tak melakukan hal yang sama. Ia langsung menemui Wawan dan mengabaikanku. Dia tak mau bertanya soal kejadian kemarin malamkah? Apa yang membuatku menangis seperti itu, apa dia tak penasaran?

“Jangan ngalangin jalan, dong!” sentak seseorang. Aku berbalik dan mendapati Andre sudah pasang tampang lempeng. Ugh! Ingin sekali kupukul dia tepat di wajahnya itu. Oh, ya. Tadi dia juga tidak masuk kelas, kan?

“Elo segede apa sih, sampe lewat samping gue aja enggak muat?”

“Cerewet!” ejeknya kemudian berlalu begitu saja. Aku mendecak tak percaya. Tingkahnya benar-benar menyebalkan! Aku sampai lupa apa tujuanku ke luar kelas tadi? Apa, ya? Oh, iya. Aku kan mau menemui Sati di luar. Sati… Sati di mana, ya? Ah, itu di bawah pohon seri.

“Sat!” panggilku. Hampir saja dia kupanggil lagi. Tapi urung karena seseorang mendekatinya. Bukankah itu Rizal? Sati langsung meninggalkan hpnya dan mulai fokus ke Rizal. Rizal duduk di depannya. Dari sini, yang bisa kulihat hanya wajah Rizal. Ia masih tersenyum seperti biasa. Tapi lama kelamaan, ekspresinya sedikit kelihatan serius. Apa yang terjadi di antara mereka kira-kira, ya?

“Ngapain sih di sini, Mi?” lagi-lagi aku dikejutkan seseorang di belakangku. Aku menoleh. Bocah tinggi ini adalah Wawan. Ia melihatku awalnya. Tapi langsung beralih ke Sati dan Rizal di depan sana. Entah ekspresi apa di wajahnya itu.

Kulihat Rizal mulai duduk di samping Sati. Aku cukup terkejut melihatnya memberikan jaketnya pada Sati. Apa hubungan mereka malah jadi sedekat itu setelah kejadian di belakang sekretariat waktu itu?

Tiba-tiba Wawan melangkah. Hampir saja dia mendahuluiku. Greb! Kutarik tangannya. Ia sempat melirik tanganku sekilas di tangannya.

“Mau ke mana, elo?” tanyaku. Wajahnya nampak kesal dengan perbuatanku. Agak kasar dia melepaskan tanganku tadi dari tangannya.

“Kenapa emang?”

“Jangan bilang elo mau ke sana?” tanyaku lagi. Kali ini lebih kutekan agar dia paham maksudku. Ini bukan waktu yang tepat jika dia mau ke sana dan mengacaukan segalanya.

“Emang kalo gue mau ke sana kenapa? Enggak boleh?” dia malah menantangku. Geram, kutarik lagi tangannya. Kupaksa sekuat tenaga dan mencari tempat untuk mengomelinya. Kupilih lorong antara gedung C dan gedung E.

“Apaan sih, Mi?!” ia berhasil kembali melepaskan tarikan tanganku. Kutatap tajam matanya. Ia menghindar. Aku tahu dia kesal dan ingin menyentakku keras-keras. Dia menahannya, dan itu terlihat jelas dari wajahnya yang mulai memerah.

“Elo enggak mikir tah, Wan?”

“Apa, sih? Mikir apa?”

“Elo itu keterlaluan tahu, enggak? Elo mau ngapain? Ngrusak hubungan mereka? Mau meluk Sati dari belakang tepat di depan mukanya Rizal lagi? Gitu mau, elo?”

“Apa sih, Mi? Elo kenapa, sih?”

“Yang kenapa itu, elo! Hak elo buat ngrusak hubungan Sati sama Rizal apaan?”

“Salah kalo gue cemburu sama cewek yang gue sukain sendiri? Gue suka sama Sati, Mi! Suka!”

“Elo emang suka! Dan idiotnya elo biarin dia sama cowok lain!”

“Maka dari itu, gue mau ke sana!”

“Iya? Dan terus kayak anak kecil bilang kalo Sati itu milik elo? Padahal elo udah buang dia di tengah jalan, karena elo punya mainan baru? Dan waktu ada orang mau mungut mainan elo itu, elo enggak terima? Abis elo ambil lagi mainan itu, elo cuma mau buang lagi, kan?” kali ini Wawan diam. Kudengar jelas giginya beradu. Biarlah kalau dia memang sangat kesal denganku. Dia hanya keterlaluan di pikiranku.

“Gue emang enggak tahu masalah elo itu apa, Wan? Gue enggak ngerti soal elo yang enggak bisa move on dari cinta pertama elo atau apalah. Tapi ini namanya enggak adil, Wan! Elo boleh bebas pacaran sama siapa aja. Terus kenapa Sati enggak? Elo enggak jadiin dia pacar, tapi elo ngelarang-ngelarang dia buat deket sama cowok lain. Enggak adil, Wan! Sadar enggak elo, itu?”

Wawan memang membuka mulutnya. Tapi ia tak berhasil berucap apapun. Selebihnya, ia terduduk. Menyandar ke tembok dengan mata yang berkaca-kaca. Wajahnya seratus persen memerah. Aku tahu dia ingin sekali meledak. Mungkin karena hubungan kami tak terlalu dekat, ia tak bisa dengan leluasa marah padaku. Atau kalau aku beruntung, ia mulai memikirkan kata-kataku barusan.

“Elo berdua ngapain sih di situ?” tiba-tiba kepala Tora menyembul dari balik dinding. Tatapannya bingung melihat posisi kami. Aku hanya membalas tatapan itu tanpa tahu harus bilang apa.

“Udah ada dosen tuh. Mau masuk, enggak?” tambahnya. Aku masih diam. Kubiarkan Wawan duluan yang pergi. Barulah setelahnya kususul. Dan Tora yang berjalan beriringan denganku tiba-tiba meletakkan tangannya di keningku. Aku cukup terkejut. Sampai reflekku begitu cepat menampik tangan itu pergi dari sana.

“Apa, sih?” ketusku.

“Cuma… siapa tahu elo sakit kan abis kehujanan kemaren.” Ah… ternyata dia masih mengkhawatirkanku.

“Gue emang sakit. Tapi udah sembuh, kok,” balasku. Kupercepat langkahku. Menjauh darinya. Tapi dia juga ikutan mempercepat langkahnya. Hup! Tangannya terulur. Memberikan sesuatu ke genggamanku kemudian pergi duluan ke kelas. Dia memberiku sebuah lollipop. Aku tak tahu apa maksudnya. Yang jelas, sikapnya yang semacam ini berlanjut beberapa hari.

Mi. Hanya pesan singkat semacam ini yang tiba-tiba ia kirimkan tiap malam. Dan kalau kutanya mengapa pasti dia hanya menjawab, “Em… enggak jadi.” Apa yang sebenarnya ingin disampaikannya padaku?

Atau saat ia tiba-tiba datang ke rumah tanpa tujuan yang jelas. Dia hanya ada di sana selama sepuluh menit tanpa bicara apa-apa, kemudian pamit pulang. Kadang-kadang sikapnya sungguh manis. Tapi kadang-kadang cukup menyebalkan. Seperti, yang mengirimiku pesan tiap malam itu bukan dia. Pesan-pesan seperti, “Buruan tidur! Udah malem!” kurasa itu bukan dia. Karena sikapnya esok hari sungguh lain.

Sama persis seperti hari ini. Kami satu kelompok, dan anggota kelompokku sedang keluar. Aku meminta pendapatnya soal materi yang kami bahas. Dia sama sekali tak mendengarkanku. Entah apa yang dilihat di hp-nya.

“Ra! Tora! Denger enggak, sih?!”

“Apa, sih?!” tiba-tiba dia menyentakku. Siapa yang tak terkejut dengan sikapnya yang mendadak berubah itu? Apalagi ekspresinya kelihatan marah sekali. Bukankah seharusnya aku yang marah karena dia tak mendengarkanku sejak tadi?

“Ya… elo dari tadi enggak…”

“Apa, sih?! Berisik banget tau enggak sih daritadi!” desisnya. Aku terdiam. Tak tahu harus bicara apa lagi. Pelan ada setitik perih di dadaku. Kenapa sikapnya hari ini menyebalkan sekali? Apa dia marah dengan seseorang di hp-nya itu dan melampiaskannya padaku? Tak adil sekali!

Melihatnya sama sekali tak merasa bersalah padaku, aku berdiri. Lebih baik kutinggalkan saja dia. Sempat kutengok dia sebelum keluar. Hah! Dia bahkan tak melihat kepergianku sedetik pun! Mungkin memang dia tak ingin diganggu. Ah, daripada aku keluar dengan tangan kosong, toh, ini juga mata kuliah terakhir, dan dosen rasanya tidak akan masuk kelas lagi, lebih baik kuambil tasku. Sampai aku kembali lagi ke dekatnya saja, ia tetap tak melirikku. Masa bodoh! Biarlah dia kerjakan sendiri itu tugasnya.

Bangku di bawah pohon seri yang kupilih. Tak ada siapa-siapa di sana. Jam kuliah membuat tempat yang biasanya cukup ramai ini menjadi sepi. Beberapa teman sekelas yang keluar kelas juga pasti lebih memilih kantin. Baru beberapa menit aku duduk, seseorang bergabung denganku. Andre.

“Ngapain elo ke sini?” tanyaku, ketus.

“Ini tempat umum kali! Punya hak apa elo ngelarang-ngelarang gue?” huh… seharusnya aku tak memprovakasinya. Bisa-bisa kekesalanku bertambah hanya karena berdebat tak penting dengannya. Tapi, cuma diam begini rasanya canggung juga. Lebih baik aku membuka pembicaraan. Cari bahan yang tidak membuatnya balik ketus padaku.

“Em… kafe elo gimana?”

“Baik-baik aja, kok. Belum rubuh.” Astaga! Kenapa jawabannya seperti ini? Rasanya bocah ini memang tak bisa diajak bicara baik-baik. Ya sudahlah! Lebih baik aku diam.

“Sebenernya, bisnis kafe gitu gue enggak terlalu suka,” tiba-tiba dia bicara lagi. Nadanya juga mendatar, tak ketus dan menyebalkan seperti tadi. Huh! Padahal aku tidak tanya, kan?

“Daripada buka kafe begituan, mending gue buka toko buku, deh. Gue lebih suka sastra, sih,” tambahnya.

“Oh, ya?” tanyaku, mencoba tertarik dengan ceritanya. Padahal tak heran, dia kan tiap hari di kelas selalu membaca novel. “Pantes. Tiap hari di kelas kerjaan elo cuma baca buku. Itu pasti novel, kan?”

Bukannya menjawab pertanyaanku barusan, dia malah menatapku aneh. A, apa maksudnya? “Ke, kenapa, sih?”

“Elo itu… beneran suka sama gue, ya? Kayaknya diem-diem elo sering perhatiin gue terus ya di kelas?” sial! Apa maksudnya coba pertanyaan ini? Ah, ya ampun! Wajahku tiba-tiba memanas.

“Enak aja! Elo jadi orang ke-PD-an banget, ya? Dikit-dikit bilang gue suka sama elo. Dasar! Siapa juga kali yang bisa suka cowok yang expressionless kayak elo ini?”

“Apa? Expressionless? Enak aja! Ati-ati ya kalo ngomong!”

“Eh, emang iya! Muka elo itu udah kayak anak kurang perhatian! Lempeng aja kayak tanah liat!”

“Emang! Gue emang kurang perhatian! Bokap gue sibuk kerja, dan nyokap gue udah meningggal sejak gue kelas 4 SD. Puas, elo?”

“Eh… so, sorry. Gue enggak bermaksud…” ah… aku jadi merasa tak enak. Padahal tadi kan aku asal ceplos. Lain kali aku harus lebih berhati-hati dengan ucapanku.

“Ngapain elo minta maaf? Bukan salah elo kali kalau gue kurang perhatian.” Walau dia bicara begini pun, tetap saja. Rasanya aku masih tak enak.

Tiba-tiba aku terpikir mengajaknya pergi. Lagi pun, dia sudah menggendong tasnya. “Ikut gue, yuk!” ajakku.

“Ke mana?”

“Ke toko buku. Ada yang mau gue cari.”

“Barusan elo ngajakin gue ngedate, ya?”

“Ih, berisik!” kutarik tangannya. Bibirnya memang banyak protes, tapi dengan baik dia mau mengikutiku. Bahkan gantian menarikku ke parkiran. Ternyata dia bawa motor.

Aku mengajaknya ke Gramedia, salah satu toko buku terbesar di Bandar Lampung. Aku langsung menuju ke lantai dua. Mencari rak novel. Dia sempat mengeluh mengikuti langkahku yang kegirangan. Yah, aku tak bisa menutupi kesenanganku tiap datang ke toko buku. Bau buku dan cover-cover baru memanjakan seluruh panca inderaku. Rasanya kalau boleh aku ingin tinggal di sini saja.
Novel yang kucari ada. Ayah novel dari penulis favoritku, Andrea Hirata.

“Elo suka banget sama Andrea Hirata, ya?” tanya.

“Iya. Apalagi yang satu ini. Gue udah baca berulang kali, cuma belum sempet punya. Tokoh Sabari ini gila sabar banget! Dia tetep aja cinta sama Lena padahal Lena-nya terus aja nolak dia. Di dunia ini, mana ada coba cowok yang sesabar Sabari ini. Gue suka banget! Elo tahu kan novel best seller-nya yang diangkat ke layar lebar? Laskar Pelangi itu?”

“Iya-iya, gue tahu elo suka banget sama Andrea Hirata. Di diary elo kan ada.”

“Huh! Jangan ngungkit-ngungkit soal diary, dong! Rasanya gue udah muntahin semua cerita kehidupan gue ke elo, kan.”

“Muntahin?” ulangnya. Mungkin menurutnya istilah barusan terdengar aneh. Tapi, yang lebih aneh adalah, ia tiba-tiba tertawa. Tak terlalu lepas memang, tapi rasanya baru kali ini aku melihatnya tertawa.

“Elo bisa ketawa juga?” tanyaku. Sontak tawanya luntur. Ia berdehem. Sikapnya kikuk betul.

“Siapa yang ketawa?” dahinya terlihat berkerut. Aku hanya terkikik melihat ekspresinya itu.

“Elo sendiri suka siapa? Tere Liye? Habiburrahman? Asma Nadia? Pramoedya? Siapa? Suka siapa?”

“Enggak ada penulis yang bener-bener gue sukain. Apalagi penulis Indonesia. Gue lebih suka novel terjemahan. Novel-novel fantasy kayak Harry Potter dan temen-temennya. Novel Indonesia kan isinya romance semua.”

“Ye! Enak aja! Enggak semua kali! Elo tahu novelnya Anastasia Aemilia itu, yang judulnya Katarsis? Dia penulis Indonesia, tapi nulisnya Thriller,” belaku pada penulis Indonesia. Dia hanya mempoutkan bibirnya. Rasanya rayuanku untuk membuatnya suka pada penulis Indonesia tidak berhasil.

Aku membeli novel Ayah tadi dan beberapa buku mata kuliah yang belum aku punya. Sedangkan Andre membeli beberapa komic. Semuanya komic fantasy. Sepertinya dia benar-benar menyukai genre fantasy. Dan ternyata dia membaca komic juga, sama seperti cowok-cowok lainnya. Yah, memangnya Andre makhluk apa? Sampai-sampai kubandingkan dengan kebiasaan cowok-cowok lain.

“Apa, sih?!” sentaknya. Aku ketahuan memperhatikannya. Tanpa kujawab, aku langsung menuju kasir, mendahuluinya.

“Gue laper,” ujarnya setelah kami sudah keluar.

“Ya, udah. Makan yuk!” ajakku. Dia menatapku. Apa? Apa aku salah mengajaknya makan.

“Elo enggak berpikir ini beneran nge-date, kan?”

Mulutku menganga lebar mendengar kata-katanya barusan. Aku hanya mengajak makan, apa salah. “Ya, enggaklah!”

“Oke, kalo gitu elo yang bayar. Kan elo yang ngajakin gue ke sini,” ujarnya kemudian pergi duluan ke parkiran. Dasar! Bilang saja mau minta ditraktir!

Kami masuk  ke warung bakso dan mie ayam yang tak jauh dari sana. Awalnya dia hanya diam. Dia sibuk sekali dengan hpnya. Entah apa yang dilakukannya, aku tak begitu penasaran. Sampai pesanan kami datang, baru dia meletakkan hpnya di atas meja. Beberapa kali kudengar hpnya berbunyi. Tapi ia abaikan. Mungkin lama kelamaan tak betah, ia mengubah mode hpnya jadi silent, kemudian dilempar begitu saja ke dalam tasnya.

“Ada yang nyariin, tah?” tanyaku penasaran.

“Iya. Ini juga palingan karyawan di kafe.”

“Kenapa? Ada masalah?”

“Biasa. Mereka suka cari perhatian. Males gue ngurusinnya.”

“Elo enggak suka banget tah sama kafe elo itu?”

“Enggak gitu juga, sih. Cuma menurut gue, bokap ngabis-ngabisin duit aja. Nti juga pasti ujung-ujungnya dijual kalo pindah lagi.”

“Elo mau pindah lagi?”

“Kalaupun gue enggak mau, bokap pasti bakalan tetep pindah.”

“Kenapa sih, bokap elo suka pindah-pindah gitu?”

“Tanya aja sama bokap gue! Nanya mulu, elo!” sentaknya tiba-tiba. Oh! Kukira kami baru saja dekat sehingga bisa mengobrol lebih santai dan lancar-lancar saja. Aku juga banyak tanya kan gara-gara dia diam saja daritadi. Menyebalkan!

“Elo sendiri, sebenernya ada hubungan apa sih sama Tora?” ia sekarang balik bertanya. Aku mengalah, deh. Nanti kalau kujawab, “Ngapain nanya-nanya?!” yang ada makanan kami belum habis dia mengajak pulang.

“Kenapa tiba-tiba nanya soal itu?”

“Nanya aja. Kalian pacaran?”

“Kenapa emangnya?”

“Ye, elo ini! Ditanya malah balik nanya! Ngeselin banget, sih!”

Elo itu super ngeselin! Kuremas sendiri garpu di tanganku. Andai saja tak ada orang di sini, sudah kutusukkan garpu ini ke mulutnya yang menyebalkan itu!

“Elo sama dia itu aneh tahu, enggak.”

“Aneh? Kenapa?”

“Ya, aneh. Dibilang temenan doang, deket banget. Tapi, dibilang pacaran, kayaknya bukan.”

“Kayaknya bukan?”

“Soalnya, gue pernah ngeliat Tora beberapa kali jalan sama cewek gitu. Oh… kayaknya masih anak FKIP. Soalnya gue sering ngeliat dia kalo gue lagi ke Jurusan IPS. Em… dia prodi apa, ya?” ia mulai berpikir. Sedangkan aku diam. Tora? Jalan dengan cewek? Kapan? Dan kenapa pula aku harus kecewa seperti ini?

“Kayaknya prodi Ekonomi, deh. Em… mukanya kayak cewek-cewek Turki, gitu.” Deg! Cewek Turki? Apa mungkin cewek yang waktu itu pernah ditemui Tora di parkiran? Dia jalan dengan Tora? Bahkan tak hanya sekali, beberapa kali. Itu pun karena Andre yang lihat. Kalau tidak?

“Oh… gue enggak tahu soal itu,” balasku. Aku dan Andre kan tak sedekat itu untuk membicarakan masalah pribadiku. Lagipula, hal seperti ini pun rasanya tak mungkin bisa kuungkapkan pada orang lain. Sedang aku sendiri tak paham dengan rasa tak enak yang menyembul tipis-tipis dari dadaku. Apa tak apa kalau kutanyakan pada Tora?

***

“Makasih, ya?” ujarku selepas turun dari motor. Kuberikan senyum cukup manis pada Andre.

“Apa, sih? Enggak usah kasih senyuman sok deket gitu sama gue. Kita kan enggak pernah deket!” huh! Orang ini memang susah benar untuk diajak akrab!

“Ya, udah! Pulang sono! Gue enggak ada niatan buat nyuruh elo mampir!” usirku.

“Siapa juga yang mau mampir! Temen bukan, pacar apalagi! Udah, deh. Gue balik!” hh! Pamitan macam apa itu tadi? Rasanya ingin benar dia kulempar dengan sepatuku sekarang!

Daripada kesal dengan kelakuan Andre barusan, lebih baik aku masuk. Membasahi badanku yang rasanya lengket. Baru membaca novel yang baru saja kubeli.

Baru juga sampai ruang tamu, ada bbm masuk. Dari Tora.

Tadi elo tiba-tiba pergi ke mana, sih? Gue cariin juga.

Tora mencariku? Padahal tadi marah-marah di kelas. Dan… soal dia dengan cewek berwajah Turki itu… ah! Lebih baik tak usah kubalas.

Tlung! Bbm masuk lagi. Pasti dari dia. Tak perlu kubuka. Kulihat dari pop up-nya saja. Masih bisa terbaca.

Diread doang lagi! Lagi di mana, sih? Lebih baik tak usah kubaca. Biarlah dia anggap tadi itu aku hanya kepencet, atau memang tak sempat membalas pesannya. Apa yang akan terjadi besok, biarlah terjadi besok.

***

Yang kupikirkan Tora akan protes padaku ternyata hasilnya nihil. Sepanjang hari dia diam saja. Membuatku kesal setengah mati! Aku tak berani menegurnya duluan. Lihat saja, matanya sejak tadi sudah menyerupai Sati. Tak pernah lepas dari hpnya. Padahal ini di tengah mata kuliah. Apa mungkin dia sedang chating-an dengan cewek berwajah Turki itu?

Brrees!!! Hujan deras tiba-tiba mengguyur. Padahal mata kuliah ini tinggal beberapa menit lagi selesai. Niatku untuk langsung pulang gagal.

Setelah dosen itu keluar, tak ada yang beranjak dari kursi. Semuanya merapat dengan jaket masing-masing. Akhir-akhir ini sering sekali hujan. Kenapa aku tak sempat membawa jaket tadi. Brr! Dingin.

“Pake, nih!” tiba-tiba Tora yang sejak tadi bisu menghampiriku. Ia menawarkan jaketnya padaku. Aku bingung harus berbuat apa. “Mau enggak?” tanyanya. Tanpa kujawab, ia meletakkan jaketnya itu di atas meja. Aku sungguh bingung dengan sikapnya yang tak menentu itu! Apa sih maunya?

“Tu orang kenapa, sih?” tanya Farra yang duduk di sampingku. Aku sampai lupa kalau bocah ini belum pergi. Untung saja tadi aku tak langsung mengamuk-amuk. Situasinya kan Farra tak tahu apa-apa soal yang kupikirkan sekarang.

“Entahlah. Lagi PMS kali,” candaku. Farra tertawa mendengar candaku. Ia kembali ke hpnya.

“Kak Dedi?” tanyaku. Ia sepertinya asyik sekali sejak tadi.

“Bukan.” Tapi tiba-tiba wajahnya terlihat murung. “Gue enggak ngerti, deh. Sejak kita jadi pengurus, dia jadi jarang gitu kan ke sekret. Dan satu lagi, dia jarang banget tau enggak sih bbm gue lagi. Cerita-cerita soal kehidupannya gitu. Bahkan, bbm terakhir gue enggak diread-read sama dia. Apa mungkin… dia udah punya cewek, ya?” aku tentu tak tahu soal itu. Makannya aku hanya mengedikkan bahuku. Lagipula, sejak aku tahu Farra menyukai Kak Dedi, sebisa mungkin kontak dengan Kak Dedi kubatasi. Sampai rasa buatnya benar-benar habis sekarang.

Yang kutahu hanya soal Sati dan Rizal. Tapi, kabar jadian dari mereka berdua belum kudengar. Sati hanya beberapa kali terlihat kasmaran dan berbunga-bunga tiap dapat pesan dari Rizal. Soal Wawan bagaimana, aku tak tahu. Hanya, wajah cemburunya masih sering kulihat tiap Sati menemui Rizal. Hah… cukup deh aku ikut campur waktu itu saja. Selanjutnya bagaimana, terserah mereka.

Jam setengah 4 pas, hujan baru berhenti. Sedikit rintik-rintik. Sati dan Farra memilih ke sekretariat. Aku sedang malas. Makannya kupilih pulang. Kutitipkan jaket Tora tadi ke Farra. Dari Fakultas sampai halte aku jalan kaki. Mungkin karena habis hujan, angkot ke arah Rajabasa belum ada. Jadilah aku menunggu.

Baru beberapa menit aku duduk, entah muncul darimana, Tora sudah duduk di sampingku. Kebiasaan lamanya kumat. Muncul tiba-tiba. Dia menatapku lama.

“Apa, sih?” tentu saja aku risih. Em… lebih dari itu, aku tak tahan dengan gemuruh jantungku saja karena tatapannya yang tak kuketahui artinya itu. Sepatah kata pun dia tak menanggapi pertanyaan risihku tadi. “Ngapain elo di sini?”

“Mau nemuin elo.”

“Buat?”

“Nemenin elo nungguin angkot dateng.”

“Apa, sih? Daripada nemenin gue nungguin angkot, mending tadi elo pinjem motornya Wawan. Terus anterin gue pulang, deh.” Dia diam lagi. Aku diam. Ya, kupilih diam saja. Tapi, diamnya keterlaluan lama. Apa aku harus memulai percakapan lebih dulu?

“Em… Ra!”

“Mi!” kami berujar dalam waktu yang bersamaan. Aku jadi kikuk sendiri. “Elo duluan!” katanya. Eh… aku mau bilang apa? Kan tadi aku hanya ingin cari bahan obrolan saja. Karena tiba-tiba aku lupa mau bilang apa, dia yang kusuruh duluan.

“Tapi jangan nyesel ya kalo gue yang duluan.”

“Hah? Nyesel? Nyesel kenapa? Ngomong tinggal ngomong kali.” Tidak, aku bohong. Jujur, aku takut dan aku gemetaran. Ada beberapa hal yang ada di otakku pasal omongan Tora sebentar lagi ini. Antara dia mau mengatakan soal perasaannya padaku, atau malah sebaliknya. Kenapa dia bersikap membingungkan selama ini, atau seperti apa. Atau… malah soal…

“Sebenernya, gue udah jadian sama Ferril.” Deg! Aku belum selesai berpikir soal hal ini tadi. Kenapa… kenapa dia mengucapkannya duluan?

“Fe, Ferril? Cewek muka Turki itu?” tebakku. Dan rasanya aku tak perlu menebaknya. Kenapa pula kutebak? Padahal pasti jawabannya itu, kan? Lihatlah, kepalanya yang perlahan mengangguk. Ah!

“O, oh… haha! Lucu banget sih, elo?” tawaku jelas terdengar begitu canggung. Tapi aku reflek melakukannya. Ini terjadi begitu saja, tanpa ada skenario dulu dari otakku.

“Lucu?”                                                                            

“Iya, lucu. Elo bilang apa tadi? Nye, nyesel? Kenapa gue harus nyesel? Elo mau jadian sama siapa aja, emang apa urusannya sama gue? Nyesel! Haha… aneh, elo!” kuhindari sebisa mungkin kontak mata dengannya.

“Elo sendiri mau bilang apa ke gue?”

“Oh! Oh… soal itu… em…” apa? Apa yang harus kukatakan untuk menghindari obrolan soal jadiannya dengan si Ferril, Ferril itu? “Gu, gue… juga lagi deket sama seseorang.” Ah! Apa, sih? Kenapa tiba-tiba aku bicara random begini?

“Siapa?” nah, dia menanyakannya, kan? Lantas harus siapa yang kukatakan? Brian? Tidak, kami memang dekat dari dulu. Tapi sekarang kan aku sedang renggang karena dia baru saja punya pacar. Lalu siapa? Siapa?

“Eng… itu… dia…” oh! Ada Andre dari arah Fakultas. Haruskah aku menghindar? “An, Andre! Gue lagi deket sama Andre.” Aduh… An! Maafkan aku! Maafkan aku!

“Andre?”

“I, iya. Andre. Tuh, orangnya! Tadi kita udah janjian mau pulang bareng. An! Andre!” panggilku sekeras mungkin. Aku berdiri dan sekuat tenaga menghadangnya. Dia malah pasang tampang bingung dan perlahan berhenti. Ya, wajar dia bingung. Aku acak sekali memilih orang.

“Apa?” tanyanya kebingungan. Hah! Masa bodohlah! Lebih baik aku pergi dari sini sekarang.

“Eh, elo udah dateng. Yok, pulang! Tadi kita udah janjian pulang bareng, kan? Duh… gue nungguin lama di sini tadi,” ucapku asal.

“Hah?” Andre sama sekali tak bisa membaca ekspresi wajahku. Tanpa basa-basi, aku langsung nangkring ke motornya.

“Du, duluan ya, Ra!” pamitku pada Tora. Sialnya Andre tak segera berangkat.

“Apa-apaan sih, elo?” tanyanya. Sontak kupukul-pukul tas punggunya. Menyuruhnya segera pergi dari sana. Agak ragu memang, tapi akhirnya dia memenuhi keinginanku.

Sampai di depan rumah, lututku terasa lemas. Kutahan sekuat mungkin. Rasanya tak pas kalau aku terlihat lemah di depan Andre.

“Makasih, ya?” ujarku lemah.

“Elo barusan manfaatin gue, ya?” tanyanya. Kuakui itu memang benar. Dan aku pun hanya mengangguk sambil tersenyum tipis menanggapinya. Ia diam saja. Aku tak tahu bagaimana ekspresi wajahnya karena aku hanya menunduk. Tiba-tiba dia mengulurkan slayer hitam padaku. Barulah saat itu kulihat wajahnya nampak prihatin padaku. Dia bahkan menghela nafasnya.

“Dipake buat air mata aja. Jangan pake lap ingus,” katanya. Kuraba pipiku sendiri. Basah. Ah, apa baru saja aku menangis? Ya, aku sadar aku membutuhkannya. Tanpa banyak komentar, kuambil slayer itu.

“Ya udah, gue balik, ya?” pamitnya. Mungkin karena melihat keadaanku yang semacam ini, ia sedikit lebih lunak. Tak otot-ototan seperti biasanya.

Dan setelah Andre pergi, kududukkan diriku di sana. Berjongkok memeluk lutut sendiri. Ah… sakit.


Sebelumnya                 Selanjutnya