Matahari baru saja merangkak ke
kaki langit. Mataku lengket dan terasa panas sekali. Kurasakan badanku berat
sekali. Kepalaku terasa pusing saat aku beranjak duduk. Ah… badanku demam.
Karena melihatku sudah bangun,
mama tak jadi masuk. Syukurlah. Sebaiknya kucari obat demam sekarang. Tak
masalah belum sarapan juga. Sarapannya ditaruh di akhir saja. Yang penting
demamku tak tambah parah dulu. Masih ada sisa air minum di gelas. Kuteguk
bersama satu buah pil penurun panas.
Selesai minum obat, aku berniat
keluar dari kamar. Tapi langkahku terhenti melihat cermin. Kulihat diriku
sendiri di cermin. Ya, ampun! Aku kacau sekali. Mataku bengkak dan rambutku
acak-acakan. Kukucek-kucek mataku, berharap sakitnya sedikit berkurang. Giliran
aku membuka mata, ada bayangan Tora di cermin. Aku mendelik lantas langsung
teringat kejadian semalam.
Aku memeluk Tora, hingga lama
sekali. Tora melepaskan pelukanku dan tiba-tiba menatapku selama aku
memeluknya. Tangannya terulur mengusap pipiku pelan. Dan sekali lagi ia
memelukku. Oh! Ya, Tuhan! Yang semalam itu bukan mimpi! Bukan mimpi!
Benar-benar terjadi! A, apa yang harus kulakukan?
Cekrek!
“Hah!!!” teriakku kaget mendengar
pintuku dibuka. Mama masuk begitu saja. Tak hanya aku, mama pun nampaknya juga
sama terkejutnya denganku.
“Kamu nih kenapa, sih? Ngagetin
mama aja!” sentak mama. Tapi mama tak jadi memarahiku. “Mata kamu kenapa?”
tanyanya. Ah, mama memegang pipiku. “Ya, ampun! Badan kamu panas!” nah, mulai
deh paniknya. Padahal tadi aku sudah senang karena mama tak jadi masuk ke
kamarku.
“Ke dokter, ya?” tawar mama.
“Enggak usah, Ma. Ini cuma panas
biasa, kok. Bentar lagi juga sembuh.”
“Tapi, kan…”
“Udah, Ma. Mama kan tahu Mia
jarang sakit. Minum obat demam juga nanti sembuh, kok.”
“Beneran?”
“He’em,” kuanggukkan kepalaku,
meyakinkan mama. Agak susah memang sih dirayu, tapi akhirnya mama menyerah.
“Ya, udah. Mama mau ke pasar dulu
sama Mbak Imah, ya? Itu sarapannya mama bikin nasi goreng.” Sekali lagi aku
mengangguk. Barulah mama pergi. Aku langsung ke ruang makan. Sepiring nasi
goreng sudah ada di sana. Baru setengah piring kuhabiskan, baru aku sadar.
Kenapa rumah ini sepi sekali? Papa ke mana?
Apa papa mengantar mama ke pasar?
Coba kulihat mobilnya ada di
depan atau tidak. Kalau tidak ada, berarti benar papa mengantar mama. Papa kan
orangnya paling malas, jadi rasanya tak mungkin kalau papa mau pergi jogging
ke luar. Daripada jogging pasti papa memilih tidur sampai jam dua belas
siang. Dan suara mama akan melengking mengomeli papa.
Aku berhenti di ruang tamu. Belum
sempat keluar karena kurasa ada seseorang yang duduk di sofa sebelah kananku.
Aku menoleh. Mataku mendelik melihat Andre dengan jaket dan jeans panjang sudah
duduk di sana. A, Andre?
Benar, itu Andre. Dia diam,
menatapku dari kaki sampai kepala. Aku baru sadar,
aku masih memakai piama. Rambutku saja belum kusisir. Bahkan aku belum gosok
gigi dan cuci muka.
“Akh!!!” teriakku. Secepat kilat
aku pergi dari sana. Masuk ke kamar dan mencari baju yang agak-agak pas untuk
kukenakan. Kurapikan rambutku dengan sisir dengan kecepatan maksimum. Cari tisu
basah untuk mengelap wajah kumalku. Untuk masalah mulut, sepertinya aku masih
punya permen karet mint di tasku. Nah, ini dia. Kukunyah secepatnya dan
langsung kubuang. Tak lucu kan kalau aku keluar masih mengunyah permen karet.
Selesai. Aku kembali ke ruang
tamu. Aku agak tersengal karena daritadi lari-lari. Ya, Tuhan! Jantungku hampir
melompat keluar. Nasi goreng yang tadi kumakan rasanya sedang menghentak-hentak
di perutku. Mau muntah, hmph! Tapi kutahan. Sialnya, dia kembali
menatapku. Hanya menatapiku tanpa ada sepatah katapun.
“Ma, mau ngapain ke sini?”
tanyaku lebih dulu. Masih berdiri.
“Enggak usah ke-PD-an dulu, deh.
Pake ganti baju segala lagi.” Hmph! Apa katanya tadi? Dan tadi itu dia
menyeringai, kan? Ah! Orang ini kenapa sebenarnya? Pagi-pagi sudah membuat
orang kesal saja!
“Gue ke sini buat nemuin bokap
elo, bukan elo,” lanjutnya.
Glek! Apa yang baru saja
kulakukan? Kulirik tas kecil di dekat kakinya. Ada beberapa dokumen di
dalamnya. Ah, ya! Benar juga! Kenapa juga dia ke sini? Dia kan tidak punya
alasan apapun untuk menemuiku. Bertemu dengan papa adalah hal yang paling
mungkin untuk membawa seorang Andre kemari. Ah… wajahku memanas. Bukan, bukan
panas karena demam. Tapi karena malu. Ah… aku sungguh malu!
“Maaf ya, An. Lama, ya? Jalannya
rame banget!” tiba-tiba papa muncul dari luar. “Oh, kamu udah bangun, Sayang?
Tumben!” papa! Apa maksud kata tumben barusan? Padahal papa yang selalu
bangun siang di hari minggu. Kulirik Andre, bermaksud melihat ekspresinya. Dia
hanya diam saja. Apa yang ada di pikirannya sekarang, hah? Ugh! Sebaiknya aku
pergi dari sini!
“Oh, ya, Sayang. Kamu ke
belakang, sekalian bikinin minum buat Andre, ya?” papa malah menunda langkahku.
“Kok Mia sih, Pa?”
“Loh… gimana, sih? Cuma bikinin
minum buat temen sendiri masa enggak mau? Lagian… Mbak Imah kan lagi ke pasar
sama Mama.”
Berat hati, sih. Tapi masa
iya aku mau menolak permintaan papa. Huh! Kenapa pula aku harus membuatkan
minum untuk orang menyebalkan itu?
Ada jus jeruk kotak di kulkas.
Ini saja. Kutuangkan ke dalam dua gelas. Satu untuk papa dan satu untuknya.
Kuantar ke depan dan otomatis obrolan papa dan Andre berhenti. Sesekali aku
melirik ke arahnya. Ternyata ia memperhatikanku. Tidak, aku tak salah tingkah.
Malah kupelototkan mataku padanya. Alisnya terangkat, seolah bertanya, “Apa,
sih?”
“Makasih ya, Sayang,” ujar papa.
Kubalikkan badan, lalu pergi dari sana. Aku tak perlu di sana lagi, kan?
Sementara papa dan Andre
mengobrol di ruang tamu, aku kembali ke meja makan. Menghabiskan sarapanku yang
masih setengah. Tapi tak
lama, papa sudah masuk dan menghampiriku.
“Andre ngapain tadi ke sini, Pa?”
tanyaku. Baru saja nasi gorengku habis.
“Om Azril keluar kota. Ada
beberapa berkas yang dititipin ke Papa buat disetorin hari ini,” jelas Papa.
Segelas air putih diteguknya habis. Mendengar penjelasan itu, aku hanya
mengangguk.
“Kamu ni enggak deket sama Andre
ya, Sayang?” tanya papa kemudian. Belum sempat kujawab, hp papa berbunyi. Ada
yang menghubunginya. Syukurlah. Aku tak perlu menjawab pertanyaan tadi.
Kini giliran hpku yang berbunyi.
Ada bbm masuk. Dari Tora.
Udah baikan? Tulisnya. Hah…
harus kubalas apa? Sekarang aku benar-benar malu. Bahkan sejak tadi masih
kuingat-ingat, akhir dari kejadian semalam apa, ya? Juga, tujuan Tora datang ke
sini tiba-tiba semalam itu apa? Aku sama sekali tak ingat. Padahal, rasanya
Tora sudah mengatakannya padaku.
Ya. Makasih buat semalem.
Balasku. Hanya diread. Kupikir dia akan bertanya lebih. Tapi rasanya tidak.
Biarlah. Mungkin dia hanya mengkhawatirkanku saja. Bagaimana besok aku
menemuinya, ya? Pasti akan canggung sekali.
***
Tap! Langkahku terhenti.
Sial! Kenapa aku berpapasan dengan Tora seperti ini di pintu? Sejak tadi pagi
padahal aku sudah tidak bertemu dia. Dan mata kuliah pertama tadi dia juga
absen. Bertemu denganya seperti ini rasanya canggung sekali. Kami hanya saling
menatap dan bingung bicara apa.
Aku menunduk. Kuambil langkah
kiri, bermaksud menghindarinya tapi dia malah menutup lagi langkahku. Aku ke
kanan, dia juga ikut ke kanan. Aku kembali ke kiri dia ikutan ke kiri. Ya,
ampun! Kami ini kenapa?
Akhirnya Tora yang mengalah. Dia
menepi dan membiarkanku keluar kelas. Dia sendiri masuk setelahnya. Aku sempat
menoleh ke belakang, tapi dia tak melakukan hal yang sama. Ia langsung menemui
Wawan dan mengabaikanku. Dia tak mau bertanya soal kejadian kemarin malamkah?
Apa yang membuatku menangis seperti itu, apa dia tak penasaran?
“Jangan ngalangin jalan, dong!”
sentak seseorang. Aku berbalik dan mendapati Andre sudah pasang tampang lempeng.
Ugh! Ingin sekali kupukul dia tepat di wajahnya itu. Oh, ya. Tadi dia juga
tidak masuk kelas, kan?
“Elo segede apa sih, sampe lewat
samping gue aja enggak muat?”
“Cerewet!” ejeknya kemudian
berlalu begitu saja. Aku mendecak tak percaya. Tingkahnya benar-benar
menyebalkan! Aku sampai lupa apa tujuanku ke luar kelas tadi? Apa, ya? Oh, iya.
Aku kan mau menemui Sati di luar. Sati… Sati di mana, ya? Ah, itu di bawah pohon seri.
“Sat!” panggilku. Hampir saja dia
kupanggil lagi. Tapi urung karena seseorang mendekatinya. Bukankah itu Rizal?
Sati langsung meninggalkan hpnya dan mulai fokus ke Rizal. Rizal duduk di
depannya. Dari sini, yang bisa kulihat hanya wajah Rizal. Ia masih tersenyum
seperti biasa. Tapi lama kelamaan, ekspresinya sedikit kelihatan serius. Apa
yang terjadi di antara mereka kira-kira, ya?
“Ngapain sih di sini, Mi?”
lagi-lagi aku dikejutkan seseorang di belakangku. Aku menoleh. Bocah tinggi ini
adalah Wawan. Ia melihatku awalnya. Tapi langsung beralih ke Sati dan Rizal di
depan sana. Entah ekspresi apa di wajahnya itu.
Kulihat Rizal mulai duduk di
samping Sati. Aku cukup terkejut melihatnya memberikan jaketnya pada Sati. Apa
hubungan mereka malah jadi sedekat itu setelah kejadian di belakang sekretariat
waktu itu?
Tiba-tiba Wawan melangkah. Hampir
saja dia mendahuluiku. Greb! Kutarik tangannya. Ia sempat melirik
tanganku sekilas di tangannya.
“Mau ke mana, elo?” tanyaku. Wajahnya nampak kesal dengan perbuatanku. Agak
kasar dia melepaskan tanganku tadi dari tangannya.
“Kenapa emang?”
“Jangan bilang elo mau ke sana?”
tanyaku lagi. Kali ini lebih kutekan agar dia paham maksudku. Ini bukan waktu
yang tepat jika dia mau ke sana dan mengacaukan segalanya.
“Emang kalo gue mau ke sana
kenapa? Enggak boleh?” dia malah menantangku. Geram, kutarik lagi tangannya.
Kupaksa sekuat tenaga dan mencari tempat untuk mengomelinya. Kupilih lorong
antara gedung C dan gedung E.
“Apaan sih, Mi?!” ia berhasil
kembali melepaskan tarikan tanganku. Kutatap tajam matanya. Ia menghindar. Aku
tahu dia kesal dan ingin menyentakku keras-keras. Dia menahannya, dan itu
terlihat jelas dari wajahnya yang mulai memerah.
“Elo enggak mikir tah, Wan?”
“Apa, sih? Mikir apa?”
“Elo itu keterlaluan tahu,
enggak? Elo mau ngapain? Ngrusak hubungan mereka? Mau meluk Sati dari belakang
tepat di depan mukanya Rizal lagi? Gitu mau, elo?”
“Apa sih, Mi? Elo kenapa, sih?”
“Yang kenapa itu, elo! Hak elo
buat ngrusak hubungan Sati sama Rizal apaan?”
“Salah kalo gue cemburu sama
cewek yang gue sukain sendiri? Gue suka sama Sati, Mi! Suka!”
“Elo emang suka! Dan idiotnya elo
biarin dia sama cowok lain!”
“Maka dari itu, gue mau ke sana!”
“Iya? Dan terus kayak anak kecil
bilang kalo Sati itu milik elo? Padahal elo udah buang dia di tengah jalan,
karena elo punya mainan baru? Dan waktu ada orang mau mungut mainan elo itu,
elo enggak terima? Abis elo ambil lagi mainan itu, elo cuma mau buang lagi,
kan?” kali ini Wawan diam. Kudengar jelas giginya beradu. Biarlah kalau dia
memang sangat kesal denganku. Dia hanya keterlaluan di pikiranku.
“Gue emang enggak tahu masalah
elo itu apa, Wan? Gue enggak ngerti soal elo yang enggak bisa move on dari
cinta pertama elo atau apalah. Tapi ini namanya enggak adil, Wan! Elo boleh
bebas pacaran sama siapa aja. Terus kenapa Sati enggak? Elo enggak jadiin dia
pacar, tapi elo ngelarang-ngelarang dia buat deket sama cowok lain. Enggak
adil, Wan! Sadar enggak elo, itu?”
Wawan memang membuka mulutnya.
Tapi ia tak berhasil berucap apapun. Selebihnya, ia terduduk. Menyandar ke
tembok dengan mata yang berkaca-kaca. Wajahnya seratus persen memerah. Aku tahu
dia ingin sekali meledak. Mungkin karena hubungan kami tak terlalu dekat, ia
tak bisa dengan leluasa marah padaku. Atau kalau aku beruntung, ia mulai
memikirkan kata-kataku barusan.
“Elo berdua ngapain sih di situ?”
tiba-tiba kepala Tora menyembul dari balik dinding. Tatapannya bingung melihat
posisi kami. Aku hanya membalas tatapan itu tanpa tahu harus bilang apa.
“Udah ada dosen tuh. Mau masuk,
enggak?” tambahnya. Aku masih diam. Kubiarkan Wawan duluan yang pergi. Barulah
setelahnya kususul. Dan Tora yang berjalan beriringan denganku tiba-tiba meletakkan tangannya di keningku.
Aku cukup terkejut. Sampai reflekku begitu cepat menampik tangan itu pergi dari
sana.
“Apa, sih?” ketusku.
“Cuma… siapa tahu elo sakit kan
abis kehujanan kemaren.” Ah… ternyata dia masih mengkhawatirkanku.
“Gue emang sakit. Tapi udah
sembuh, kok,” balasku. Kupercepat langkahku. Menjauh darinya. Tapi dia juga
ikutan mempercepat langkahnya. Hup! Tangannya terulur. Memberikan sesuatu
ke genggamanku kemudian pergi duluan ke kelas. Dia memberiku sebuah lollipop.
Aku tak tahu apa maksudnya. Yang jelas, sikapnya yang semacam ini berlanjut
beberapa hari.
Mi. Hanya pesan singkat
semacam ini yang tiba-tiba ia kirimkan tiap malam. Dan kalau kutanya mengapa
pasti dia hanya menjawab, “Em… enggak jadi.” Apa yang sebenarnya ingin
disampaikannya padaku?
Atau saat ia tiba-tiba datang ke
rumah tanpa tujuan yang jelas. Dia hanya ada di sana selama sepuluh menit tanpa
bicara apa-apa, kemudian pamit pulang. Kadang-kadang sikapnya sungguh manis.
Tapi kadang-kadang cukup menyebalkan. Seperti, yang mengirimiku pesan tiap
malam itu bukan dia. Pesan-pesan seperti, “Buruan tidur! Udah malem!” kurasa
itu bukan dia. Karena sikapnya esok hari sungguh lain.
Sama persis seperti hari ini.
Kami satu kelompok, dan anggota kelompokku sedang keluar. Aku meminta
pendapatnya soal materi yang kami bahas. Dia sama sekali tak mendengarkanku.
Entah apa yang dilihat di hp-nya.
“Ra! Tora! Denger enggak, sih?!”
“Apa, sih?!” tiba-tiba dia
menyentakku. Siapa yang tak terkejut dengan sikapnya yang mendadak berubah itu?
Apalagi ekspresinya kelihatan marah sekali. Bukankah seharusnya aku yang marah
karena dia tak mendengarkanku sejak tadi?
“Ya… elo dari tadi enggak…”
“Apa, sih?! Berisik banget tau
enggak sih daritadi!” desisnya. Aku terdiam. Tak tahu harus bicara apa lagi.
Pelan ada setitik perih di dadaku. Kenapa sikapnya hari ini menyebalkan sekali?
Apa dia marah dengan seseorang di hp-nya itu dan melampiaskannya padaku? Tak
adil sekali!
Melihatnya sama sekali tak merasa
bersalah padaku, aku berdiri. Lebih baik kutinggalkan saja dia. Sempat kutengok
dia sebelum keluar. Hah! Dia bahkan tak melihat kepergianku sedetik pun!
Mungkin memang dia tak ingin diganggu. Ah, daripada aku keluar dengan tangan
kosong, toh, ini juga mata kuliah terakhir, dan dosen rasanya tidak akan
masuk kelas lagi, lebih baik kuambil tasku. Sampai aku kembali lagi ke dekatnya
saja, ia tetap tak melirikku. Masa bodoh! Biarlah dia kerjakan sendiri itu
tugasnya.
Bangku di bawah pohon seri yang
kupilih. Tak ada siapa-siapa di sana. Jam kuliah membuat tempat yang biasanya
cukup ramai ini menjadi sepi. Beberapa teman sekelas yang keluar kelas juga
pasti lebih memilih kantin. Baru beberapa menit aku duduk, seseorang bergabung
denganku. Andre.
“Ngapain elo ke sini?” tanyaku,
ketus.
“Ini tempat umum kali! Punya hak
apa elo ngelarang-ngelarang gue?” huh… seharusnya aku tak
memprovakasinya. Bisa-bisa kekesalanku bertambah hanya karena berdebat tak
penting dengannya. Tapi, cuma diam begini rasanya canggung juga. Lebih baik aku
membuka pembicaraan. Cari bahan yang tidak membuatnya balik ketus padaku.
“Em… kafe elo gimana?”
“Baik-baik aja, kok. Belum
rubuh.” Astaga! Kenapa jawabannya seperti ini? Rasanya bocah ini memang tak bisa
diajak bicara baik-baik. Ya sudahlah! Lebih baik aku diam.
“Sebenernya, bisnis kafe gitu gue
enggak terlalu suka,” tiba-tiba dia bicara lagi. Nadanya juga mendatar, tak
ketus dan menyebalkan seperti tadi. Huh! Padahal aku tidak tanya, kan?
“Daripada buka kafe begituan,
mending gue buka toko buku, deh. Gue lebih suka sastra, sih,” tambahnya.
“Oh, ya?” tanyaku, mencoba
tertarik dengan ceritanya. Padahal tak heran, dia kan tiap hari di kelas selalu
membaca novel. “Pantes. Tiap hari di kelas kerjaan elo cuma baca buku. Itu
pasti novel, kan?”
Bukannya menjawab pertanyaanku
barusan, dia malah menatapku aneh. A, apa maksudnya? “Ke, kenapa, sih?”
“Elo itu… beneran suka sama gue,
ya? Kayaknya diem-diem elo sering perhatiin gue terus ya di kelas?” sial! Apa
maksudnya coba pertanyaan ini? Ah, ya ampun! Wajahku tiba-tiba memanas.
“Enak aja! Elo jadi orang
ke-PD-an banget, ya? Dikit-dikit bilang gue suka sama elo. Dasar! Siapa juga
kali yang bisa suka cowok yang expressionless kayak elo ini?”
“Apa? Expressionless? Enak
aja! Ati-ati ya kalo ngomong!”
“Eh, emang iya! Muka elo itu udah
kayak anak kurang perhatian! Lempeng aja kayak tanah liat!”
“Emang! Gue emang kurang
perhatian! Bokap gue sibuk kerja, dan nyokap gue udah meningggal sejak gue
kelas 4 SD. Puas, elo?”
“Eh… so, sorry. Gue enggak
bermaksud…” ah… aku jadi merasa tak enak. Padahal tadi kan aku asal ceplos.
Lain kali aku harus lebih berhati-hati dengan ucapanku.
“Ngapain elo minta maaf? Bukan
salah elo kali kalau gue kurang perhatian.” Walau dia bicara begini pun, tetap
saja. Rasanya aku masih tak enak.
Tiba-tiba aku terpikir
mengajaknya pergi. Lagi pun, dia sudah menggendong tasnya. “Ikut gue, yuk!”
ajakku.
“Ke mana?”
“Ke toko buku. Ada yang mau gue
cari.”
“Barusan elo ngajakin gue
ngedate, ya?”
“Ih, berisik!” kutarik tangannya.
Bibirnya memang banyak protes, tapi dengan baik dia mau mengikutiku. Bahkan
gantian menarikku ke parkiran. Ternyata dia bawa motor.
Aku mengajaknya ke Gramedia,
salah satu toko buku terbesar di Bandar Lampung. Aku langsung menuju ke lantai
dua. Mencari rak novel. Dia sempat mengeluh mengikuti langkahku yang
kegirangan. Yah, aku tak bisa menutupi kesenanganku tiap datang ke toko buku.
Bau buku dan cover-cover baru memanjakan seluruh panca inderaku. Rasanya
kalau boleh aku ingin tinggal di sini saja.
Novel yang kucari ada. Ayah
novel dari penulis favoritku, Andrea Hirata.
“Elo suka banget sama Andrea
Hirata, ya?” tanya.
“Iya. Apalagi yang satu ini. Gue
udah baca berulang kali, cuma belum sempet punya. Tokoh Sabari ini gila sabar
banget! Dia tetep aja cinta sama Lena padahal Lena-nya terus aja nolak dia. Di
dunia ini, mana ada coba cowok yang sesabar Sabari ini. Gue suka banget! Elo
tahu kan novel best seller-nya yang diangkat ke layar lebar? Laskar
Pelangi itu?”
“Iya-iya, gue tahu elo suka banget
sama Andrea Hirata. Di diary elo kan ada.”
“Huh! Jangan ngungkit-ngungkit
soal diary, dong! Rasanya gue udah muntahin semua cerita kehidupan gue ke elo,
kan.”
“Muntahin?” ulangnya. Mungkin
menurutnya istilah barusan terdengar aneh. Tapi, yang lebih aneh adalah, ia
tiba-tiba tertawa. Tak terlalu lepas memang, tapi rasanya baru kali ini aku
melihatnya tertawa.
“Elo bisa ketawa juga?” tanyaku.
Sontak tawanya luntur. Ia berdehem. Sikapnya kikuk betul.
“Siapa yang ketawa?” dahinya
terlihat berkerut. Aku hanya terkikik melihat ekspresinya itu.
“Elo sendiri suka siapa? Tere
Liye? Habiburrahman? Asma Nadia? Pramoedya? Siapa? Suka siapa?”
“Enggak ada penulis yang
bener-bener gue sukain. Apalagi penulis Indonesia. Gue lebih suka novel
terjemahan. Novel-novel fantasy kayak Harry Potter dan temen-temennya. Novel
Indonesia kan isinya romance
semua.”
“Ye! Enak aja! Enggak semua kali!
Elo tahu novelnya Anastasia Aemilia itu, yang judulnya Katarsis? Dia penulis
Indonesia, tapi nulisnya Thriller,” belaku pada penulis Indonesia. Dia hanya
mempoutkan bibirnya. Rasanya rayuanku untuk membuatnya suka pada penulis
Indonesia tidak berhasil.
Aku membeli novel Ayah tadi dan
beberapa buku mata kuliah yang belum aku punya. Sedangkan Andre membeli
beberapa komic. Semuanya komic fantasy. Sepertinya dia benar-benar menyukai
genre fantasy. Dan ternyata dia membaca komic juga, sama seperti cowok-cowok
lainnya. Yah, memangnya Andre makhluk apa? Sampai-sampai kubandingkan dengan
kebiasaan cowok-cowok lain.
“Apa, sih?!” sentaknya. Aku
ketahuan memperhatikannya. Tanpa kujawab, aku langsung menuju kasir,
mendahuluinya.
“Gue laper,” ujarnya setelah kami
sudah keluar.
“Ya, udah. Makan yuk!” ajakku.
Dia menatapku. Apa? Apa aku salah mengajaknya makan.
“Elo enggak berpikir ini beneran
nge-date, kan?”
Mulutku menganga lebar mendengar
kata-katanya barusan. Aku hanya mengajak makan, apa salah. “Ya, enggaklah!”
“Oke, kalo gitu elo yang bayar.
Kan elo yang ngajakin gue ke sini,” ujarnya kemudian pergi duluan ke parkiran.
Dasar! Bilang saja mau minta ditraktir!
Kami masuk ke warung bakso dan mie ayam yang tak jauh
dari sana. Awalnya dia hanya diam. Dia sibuk sekali dengan hpnya. Entah apa
yang dilakukannya, aku tak begitu penasaran. Sampai pesanan kami datang, baru
dia meletakkan hpnya di atas meja. Beberapa kali kudengar hpnya berbunyi. Tapi
ia abaikan. Mungkin lama kelamaan tak betah, ia mengubah mode hpnya jadi silent,
kemudian dilempar begitu saja ke dalam tasnya.
“Ada yang nyariin, tah?” tanyaku
penasaran.
“Iya. Ini juga palingan karyawan
di kafe.”
“Kenapa? Ada masalah?”
“Biasa. Mereka suka cari
perhatian. Males gue ngurusinnya.”
“Elo enggak suka banget tah sama
kafe elo itu?”
“Enggak gitu juga, sih. Cuma
menurut gue, bokap ngabis-ngabisin duit aja. Nti juga pasti ujung-ujungnya
dijual kalo pindah lagi.”
“Elo mau pindah lagi?”
“Kalaupun gue enggak mau, bokap
pasti bakalan tetep pindah.”
“Kenapa sih, bokap elo suka
pindah-pindah gitu?”
“Tanya aja sama bokap gue! Nanya
mulu, elo!” sentaknya tiba-tiba. Oh! Kukira kami baru saja dekat sehingga bisa
mengobrol lebih santai dan lancar-lancar saja. Aku juga banyak tanya kan
gara-gara dia diam saja daritadi. Menyebalkan!
“Elo sendiri, sebenernya ada
hubungan apa sih sama Tora?” ia sekarang balik bertanya. Aku mengalah, deh.
Nanti kalau kujawab, “Ngapain nanya-nanya?!” yang ada makanan kami belum habis
dia mengajak pulang.
“Kenapa tiba-tiba nanya soal
itu?”
“Nanya aja. Kalian pacaran?”
“Kenapa emangnya?”
“Ye, elo ini! Ditanya malah balik
nanya! Ngeselin banget, sih!”
Elo itu super ngeselin!
Kuremas sendiri garpu di tanganku. Andai saja tak ada orang di sini, sudah
kutusukkan garpu ini ke mulutnya yang menyebalkan itu!
“Elo sama dia itu aneh tahu,
enggak.”
“Aneh? Kenapa?”
“Ya, aneh. Dibilang temenan
doang, deket banget. Tapi, dibilang pacaran, kayaknya bukan.”
“Kayaknya bukan?”
“Soalnya, gue pernah ngeliat Tora
beberapa kali jalan sama cewek gitu. Oh… kayaknya masih anak FKIP. Soalnya gue
sering ngeliat dia kalo gue lagi ke Jurusan IPS. Em… dia prodi apa, ya?” ia
mulai berpikir. Sedangkan aku diam. Tora? Jalan dengan cewek? Kapan? Dan kenapa
pula aku harus kecewa seperti ini?
“Kayaknya prodi Ekonomi, deh. Em…
mukanya kayak cewek-cewek Turki, gitu.” Deg! Cewek Turki? Apa mungkin
cewek yang waktu itu pernah ditemui Tora di parkiran? Dia jalan dengan Tora?
Bahkan tak hanya sekali, beberapa kali. Itu pun karena Andre yang lihat. Kalau
tidak?
“Oh… gue enggak tahu soal itu,”
balasku. Aku dan Andre kan tak sedekat itu untuk membicarakan masalah
pribadiku. Lagipula, hal seperti ini pun rasanya tak mungkin bisa kuungkapkan
pada orang lain. Sedang aku sendiri tak paham dengan rasa tak enak yang
menyembul tipis-tipis dari dadaku. Apa tak apa kalau kutanyakan pada Tora?
***
“Makasih, ya?” ujarku selepas
turun dari motor. Kuberikan senyum cukup manis pada Andre.
“Apa, sih? Enggak usah kasih
senyuman sok deket gitu sama gue. Kita kan enggak pernah deket!” huh! Orang ini
memang susah benar untuk diajak akrab!
“Ya, udah! Pulang sono! Gue
enggak ada niatan buat nyuruh elo mampir!” usirku.
“Siapa juga yang mau mampir!
Temen bukan, pacar apalagi! Udah, deh. Gue balik!” hh! Pamitan macam apa itu
tadi? Rasanya ingin benar dia kulempar dengan sepatuku sekarang!
Daripada kesal dengan kelakuan
Andre barusan, lebih baik aku masuk. Membasahi badanku yang rasanya lengket. Baru
membaca novel yang baru saja kubeli.
Baru juga sampai ruang tamu, ada
bbm masuk. Dari Tora.
Tadi elo tiba-tiba pergi ke mana, sih? Gue cariin juga.
Tora mencariku? Padahal tadi
marah-marah di kelas. Dan… soal dia dengan cewek berwajah Turki itu… ah! Lebih
baik tak usah kubalas.
Tlung! Bbm masuk lagi.
Pasti dari dia. Tak perlu kubuka. Kulihat dari pop up-nya saja. Masih
bisa terbaca.
Diread doang lagi! Lagi di mana, sih? Lebih baik tak usah kubaca.
Biarlah dia anggap tadi itu aku hanya kepencet, atau memang tak sempat membalas
pesannya. Apa yang akan terjadi besok, biarlah terjadi besok.
***
Yang kupikirkan Tora akan protes
padaku ternyata hasilnya nihil. Sepanjang hari dia diam saja. Membuatku kesal
setengah mati! Aku tak berani menegurnya duluan. Lihat saja, matanya sejak tadi
sudah menyerupai Sati. Tak pernah lepas dari hpnya. Padahal ini di tengah mata
kuliah. Apa mungkin dia sedang chating-an dengan cewek berwajah Turki
itu?
Brrees!!! Hujan deras
tiba-tiba mengguyur. Padahal mata kuliah ini tinggal beberapa menit lagi
selesai. Niatku untuk langsung pulang gagal.
Setelah dosen itu keluar, tak ada
yang beranjak dari kursi. Semuanya merapat dengan jaket masing-masing. Akhir-akhir ini sering sekali hujan.
Kenapa aku tak sempat membawa jaket tadi. Brr! Dingin.
“Pake, nih!” tiba-tiba Tora yang
sejak tadi bisu menghampiriku. Ia menawarkan jaketnya padaku. Aku bingung harus
berbuat apa. “Mau enggak?” tanyanya. Tanpa kujawab, ia meletakkan jaketnya itu
di atas meja. Aku sungguh bingung dengan sikapnya yang tak menentu itu! Apa sih
maunya?
“Tu orang kenapa, sih?” tanya
Farra yang duduk di sampingku. Aku sampai lupa kalau bocah ini belum pergi.
Untung saja tadi aku tak langsung mengamuk-amuk. Situasinya kan Farra tak tahu
apa-apa soal yang kupikirkan sekarang.
“Entahlah. Lagi PMS kali,”
candaku. Farra tertawa mendengar candaku. Ia kembali ke hpnya.
“Kak Dedi?” tanyaku. Ia
sepertinya asyik sekali sejak tadi.
“Bukan.” Tapi tiba-tiba wajahnya
terlihat murung. “Gue enggak ngerti, deh. Sejak kita jadi pengurus, dia jadi
jarang gitu kan ke sekret. Dan satu lagi, dia jarang banget tau enggak sih bbm
gue lagi. Cerita-cerita soal kehidupannya gitu. Bahkan, bbm terakhir gue enggak
diread-read sama dia. Apa mungkin… dia udah punya cewek, ya?” aku tentu tak
tahu soal itu. Makannya aku hanya mengedikkan bahuku. Lagipula, sejak aku tahu
Farra menyukai Kak Dedi, sebisa mungkin kontak dengan Kak Dedi kubatasi. Sampai
rasa buatnya benar-benar habis sekarang.
Yang kutahu hanya soal Sati dan
Rizal. Tapi, kabar jadian dari mereka berdua belum kudengar. Sati hanya
beberapa kali terlihat kasmaran dan berbunga-bunga tiap dapat pesan dari Rizal.
Soal Wawan bagaimana, aku tak tahu. Hanya, wajah cemburunya masih sering
kulihat tiap Sati menemui Rizal. Hah… cukup deh aku ikut campur waktu
itu saja. Selanjutnya bagaimana, terserah mereka.
Jam setengah 4 pas, hujan baru
berhenti. Sedikit rintik-rintik. Sati dan Farra memilih ke sekretariat. Aku
sedang malas. Makannya kupilih pulang. Kutitipkan jaket Tora tadi ke Farra.
Dari Fakultas sampai halte aku jalan kaki. Mungkin karena habis hujan, angkot
ke arah Rajabasa belum ada. Jadilah aku menunggu.
Baru beberapa menit aku duduk,
entah muncul darimana, Tora sudah duduk di sampingku. Kebiasaan lamanya kumat.
Muncul tiba-tiba. Dia menatapku lama.
“Apa, sih?” tentu saja aku risih.
Em… lebih dari itu, aku tak tahan dengan gemuruh jantungku saja karena
tatapannya yang tak kuketahui artinya itu. Sepatah kata pun dia tak menanggapi
pertanyaan risihku tadi. “Ngapain elo di sini?”
“Mau nemuin elo.”
“Buat?”
“Nemenin elo nungguin angkot
dateng.”
“Apa, sih? Daripada nemenin gue
nungguin angkot, mending tadi elo pinjem motornya Wawan. Terus anterin gue
pulang, deh.” Dia diam lagi. Aku diam. Ya, kupilih diam saja. Tapi, diamnya
keterlaluan lama. Apa aku harus memulai percakapan lebih dulu?
“Em… Ra!”
“Mi!” kami berujar dalam waktu
yang bersamaan. Aku jadi kikuk sendiri. “Elo duluan!” katanya. Eh… aku mau
bilang apa? Kan tadi aku hanya ingin cari bahan obrolan saja. Karena tiba-tiba
aku lupa mau bilang apa, dia yang kusuruh duluan.
“Tapi jangan nyesel ya kalo gue
yang duluan.”
“Hah? Nyesel? Nyesel kenapa?
Ngomong tinggal ngomong kali.” Tidak, aku bohong. Jujur, aku takut dan aku
gemetaran. Ada beberapa hal yang ada di otakku pasal omongan Tora sebentar lagi
ini. Antara dia mau mengatakan soal perasaannya padaku, atau malah sebaliknya.
Kenapa dia bersikap membingungkan selama ini, atau seperti apa. Atau… malah
soal…
“Sebenernya, gue udah jadian sama
Ferril.” Deg! Aku belum selesai berpikir soal hal ini tadi. Kenapa…
kenapa dia mengucapkannya duluan?
“Fe, Ferril? Cewek muka Turki
itu?” tebakku. Dan rasanya aku tak perlu menebaknya. Kenapa pula kutebak?
Padahal pasti jawabannya itu, kan? Lihatlah, kepalanya yang perlahan
mengangguk. Ah!
“O, oh… haha! Lucu banget sih,
elo?” tawaku jelas terdengar begitu canggung. Tapi aku reflek melakukannya. Ini
terjadi begitu saja, tanpa ada skenario dulu dari otakku.
“Lucu?”
“Iya, lucu. Elo bilang apa tadi?
Nye, nyesel? Kenapa gue harus nyesel? Elo mau jadian sama siapa aja, emang apa
urusannya sama gue? Nyesel! Haha… aneh, elo!” kuhindari sebisa mungkin kontak
mata dengannya.
“Elo sendiri mau bilang apa ke
gue?”
“Oh! Oh… soal itu… em…” apa? Apa
yang harus kukatakan untuk menghindari obrolan soal jadiannya dengan si Ferril,
Ferril itu? “Gu, gue… juga lagi deket sama seseorang.” Ah! Apa, sih?
Kenapa tiba-tiba aku bicara random begini?
“Siapa?” nah, dia menanyakannya,
kan? Lantas harus siapa yang kukatakan? Brian? Tidak, kami memang dekat dari
dulu. Tapi sekarang kan aku sedang renggang karena dia baru saja punya pacar.
Lalu siapa? Siapa?
“Eng… itu… dia…” oh! Ada Andre
dari arah Fakultas. Haruskah aku menghindar? “An, Andre! Gue lagi deket sama
Andre.” Aduh… An! Maafkan aku! Maafkan aku!
“Andre?”
“I, iya. Andre. Tuh, orangnya!
Tadi kita udah janjian mau pulang bareng. An! Andre!” panggilku sekeras
mungkin. Aku berdiri dan sekuat tenaga menghadangnya. Dia malah pasang tampang
bingung dan perlahan berhenti. Ya, wajar dia bingung. Aku acak sekali memilih
orang.
“Apa?” tanyanya kebingungan. Hah!
Masa bodohlah! Lebih baik aku pergi dari sini sekarang.
“Eh, elo udah dateng. Yok,
pulang! Tadi kita udah janjian pulang bareng, kan? Duh… gue nungguin lama di
sini tadi,” ucapku asal.
“Hah?” Andre sama sekali tak bisa
membaca ekspresi wajahku. Tanpa basa-basi, aku langsung nangkring ke
motornya.
“Du, duluan ya, Ra!” pamitku pada
Tora. Sialnya Andre tak segera berangkat.
“Apa-apaan sih, elo?” tanyanya.
Sontak kupukul-pukul tas punggunya. Menyuruhnya segera pergi dari sana. Agak
ragu memang, tapi akhirnya dia memenuhi keinginanku.
Sampai di depan rumah, lututku
terasa lemas. Kutahan sekuat mungkin. Rasanya tak pas kalau aku terlihat lemah
di depan Andre.
“Makasih, ya?” ujarku lemah.
“Elo barusan manfaatin gue, ya?”
tanyanya. Kuakui itu memang benar. Dan aku pun hanya mengangguk sambil
tersenyum tipis menanggapinya. Ia diam saja. Aku tak tahu bagaimana ekspresi
wajahnya karena aku hanya menunduk. Tiba-tiba dia mengulurkan slayer
hitam padaku. Barulah saat itu kulihat wajahnya nampak prihatin padaku. Dia
bahkan menghela nafasnya.
“Dipake buat air mata aja. Jangan
pake lap ingus,” katanya. Kuraba pipiku sendiri. Basah. Ah, apa baru saja aku
menangis? Ya, aku sadar aku membutuhkannya. Tanpa banyak komentar, kuambil slayer
itu.
“Ya udah, gue balik, ya?”
pamitnya. Mungkin karena melihat keadaanku yang semacam ini, ia sedikit lebih
lunak. Tak otot-ototan seperti biasanya.
Sebelumnya Selanjutnya