Tuesday, January 14, 2020

Alasan Aku Masih Bertahan


“Arkh…” ia terbangun dengan sakit di sekujur tubuhnya. Rasanya pinggangnya hampir copot. Kalau saja perutnya tak perlu diberi asupan, atau tenggorokannya tak perlu dialiri air, ia mungkin tak akan bangun. Berbaring setidaknya seharian saja, mungkin bisa lebih baik. Tapi, yah. Itu hanya pengandaian saja.

Yang Ki Jae dengar pertama kali membuka pintu kamarnya adalah suara dari ruang tamu. Apa ada orang? Karena yang ia dengar seperti suara beberapa alat makan yang tertata di meja. Persis setiap pagi kalau ada Hyo Kyung di sini. Suara yang sama, tentu milik orang yang sama. Hyo Kyung sudah ada di sana saat ia melangkah karena penasaran dengan suara itu. Meja ruang tamu itu sudah penuh dengan makanan.

“Kau sudah bangun?” Hyo Kyung menyambut kedatangannya dengan senyum cerah. Meski tak sepadan benar dengan aura di wajahnya. Ini hanya hari Jum’at, bukan akhir pekan. Lantas kenapa Hyo Kyung sudah pulang sekarang? Ah, Ki Jae sendiri tak tertarik untuk menanyakanya. Makannya Ki Jae memilih untuk berlalu. Hyo Kyung sebenarnya sempat menahannya. Tapi tak digubrisnya dan ia masuk ke kamar mandi. Berharap saat keluar Hyo Kyung tidak ada, tapi nyatanya gadis itu masih ada di sana. Dengan makanan yang belum ia sentuh sama sekali. “Mokja[1]! Ajaknya pelan. Ki Jae hanya memandanginya dengan handuk yang menggantung di lehernya. Sampai akhirnya ia memilih untuk tidak peduli lagi. Kembali berlalu dan masuk ke kamarnya.

Ia keluar, dengan seragam yang sudah melengkapi tubuhnya. Kali ini Hyo Kyung tak membiarkannya pergi. Ditariknya tangan kirinya sebelum benar-benar hengkang dari hadapannya. “Makanlah dulu,” pintanya dengan nada memelas.

“Wae?” akhirnya Ki Jae memberi respon. Ia berbalik dan melempari kakaknya dengan tatapan sinis luar biasa. “Kurasa tak masalah juga kalau aku tidak makan. Apa pedulimu?” tanyanya begitu ketus. Terang saja hati Hyo Kyung sakit bukan main. Tapi ini bukan salah Ki Jae. Ki Jae tak tahu apapun dan tak sepatutnya ia membenci perkataannya yang sangat sarkas itu.

“Ki Jae~ya…” suara Hyo Kyung begitu parau. Jauh mengesampingkan rasa kesalnya, sesungguhnya Ki Jae sendiri tak suka bersikap seperti ini pada Hyo Kyung. Dia hanya merasa egonya terlalu tinggi. Dan sepertinya pun itu lebih baik diutamakan dulu daripada rasa ibanya. Ia hanya ingin membuat kakaknya ini mengerti apa yang diinginkannya, yang tak lain adalah tidak meninggalkannya seorang diri. “…sekali saja. Hanya sekali saja, tidak bisakah kau memberi nuna beberapa waktu untuk menjelaskannya kepadamu?”

“Menjelaskan tentang apa? Aku juga tidak penasaran soal apapun!”

“Beri nuna waktu. Nuna akan menjelaskan semuanya.”

“Nuna…” Ki Jae menyingkirkan tangan Hyo Kyung di tangan kirinya. “…kau tidak perlu menjelaskannya. Aku tidak membutuhkannya,” sentaknya begitu lirih. Ia hampir meninggalkan Hyo Kyung. “Janji itu!” hanya saja sentakan Hyo Kyung yang satu ini membuatnya berhenti. Ia belum berbalik, tapi pendengarannya siap untuk menampung kata-katanya selanjutnya. “Nuna tidak akan meninggalkanmu seperti eomma. Nuna akan selalu menjaga janji itu.” Hati Ki Jae tergugah. Akhirnya dia berbalik. Memepersilahkan Hyo Kyung untuk bicara lebih banyak.

“Sekarang Nuna belum bisa menjelaskannya. Nuna ingin mengatakannya, tapi nuna tidak bisa. Tidak sekarang. Nuna berjanji, nuna berjanji akan mengatakan alasannya. Nuna mohon… Ki Jae~ya… Nuna mohon kau mengerti nuna sekali ini saja. Eoh?” Hyo Kyung kelihatan menyedihkan sekali. Walaupun tak ada respon dari Ki Jae, tapi dalam hati ia memikirkan permintaannya, mencoba mengerti posisi kakaknya. Membiarkan kakaknya memohon lebih lama, bukanlah kemauannya. Egonya banyak meluntur. Ia tak mau kalau-kalau air yang tertahan di mata itu tumpah nantinya. 

“Sebelum berangkat, makanlah dulu,” lirih Hyo Kyung. Ia paham luluhnya Ki Jae sekarang. Dalam hitungan detik, bocah itu kembali menjadi adik seperti biasanya. Walaupun tak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya, Ki Jae berbalik. Duduk bersila dan melahap semua yang disediakan Hyo Kyung dengan begitu tergesa-gesanya. Satu suap, dua suap, sampai mulutnya penuh karena belum ada sedikit pun yang tertelan. Kepalanya tertunduk merasakan air mata yang kurang ajarnya mengalir begitu saja.

Hyo Kyung pun mengikutinya. Daging dan kimchi ia masukkan ke mangkuk Ki Jae. Hatinya mencelos mendengar kata, “Appojima[2]!” begitu lirihnya dari bibir Ki Jae. Air matanya ikut tumpah. Ki Jae tak sepenuhnya membencinya. Hyo Kyung paham, egonya barusan hanya bentuk rasa pedulinya yang sangat dalam pada kakaknya sendiri.

“Pelan-pelan makannya. Kau bisa tersedak nanti,” ujarnya menambah beberapa lauk lagi di mangkuk Ki Jae. Dan Ki Jae terus saja memenuhi mulutnya disertai derai air mata dan sesenggukannya.

***

“Aku dan Do Guk sudah mendatangi kampusnya. Bertanya pada semua mahasiswa yang mengenalnya. Semua jawabannya seperti disejajarkan. Tidak ada yang berbeda. Sepertinya Oh Chae Rim tidak punya teman sama sekali. Tidak ada satu orang pun di kampus itu yang menyukainya,” lapor Baek Ji pada Woo Young. Mereka kembali berkumpul di tempat yang sama. Tentu untuk melaporkan apa-apa saja yang sudah menjadi tugas mereka. “Kami pun sudah mendatangi seluruh salon di Gangnam Gu dan beberapa salon yang sering ia kunjungi juga memberikan kesaksian yang sama. Kepribadian Oh Chae Rim yang suka memerintah orang lain sangat dibenci pegawai salon-salon itu. Terakhir Oh Chae Rim ke sana adalah dua jam sebelum audisinya, yaitu salon di seberang jalan depan tempat audisnya.Karena aku mendengar tuturan dari teman-temannya kalau dia ingin operasi plastik, kami juga mengunjungi klinik bedah plastik dan tidak ada nama Oh Chae Rim sebagai salah satu pasien mereka,” lanjutnya lagi. Ketiga rekan serta ketua timnya mengangguk-angguk jelas atas laporan yang dibuatnya.

“Bagaimana dengan daftar tersangka lain, selain Oh Chae Rim?” tanya Woo Young kepada siapa saja yang mau menjawab.

“Tersangka yang cukup untuk dicurigai adalah mantan kekasihnya. Sehari setelah Min Soo Min tidak bekerja, dia tidak ada di rumahnya. Alibinya memang pergi ke China. Tapi kami belum memastikan apakah dia benar-benar pergi ke China atau menemui Min Soo Min. Jika memang mantan kekasihnya adalah pembunuhnya, bisa saja Min Soo Min datang menemuinya dan mereka bertengkar hebat. Kemudian terjadilah pembunuhan itu,” Won Geun yang menjawabnya.

“Tapi kita tak punya bukti yang sangat kuat untuk memberatkannya sebagai tersangka, begitu?” Woo Young menegaskan. Dan Won Geun pun mengangguk membenarkan. “Yang lain?”

“Tersangka yang bisa kita curigai sebenarnya adalah orang-orang yang ada di TKP. Tapi, karena mereka semua sudah memberikan kesaksian, dan kita pun sudah memeriksa CCTV-nya, bahwa memang tidak ada yang masuk sebelum, bersama, atau pun tepat setelah Oh Chae Rim masuk, maka alibi mereka sukses. Dan tidak ada yang mencurigakan dari kesaksian mereka kemarin. Selain itu, mereka semua adalah wanita, yang tidak memungkinkan untuk membawa mayat Min Soo Min tanpa ketahuan CCTV,” giliran Soo Jin ambil bagian, seperti biasa memberi hipotesisnya. Woo Young nampak manggut-manggut, setuju dengan pendapatnya. “Saat kulihat jarak jendelanya kemarin, mustahil juga jika wanita melompat masuk dari luar. Karena tidak ada wastafel yang bisa dijadikan pijakan untuk meraih tempat setinggi itu. Kalaupun ia menggunakan sesuatu untuk memanjat, seharusnya bekasnya bisa ditemukan di sana. Tapi yang kutemukan hanya kerusakan biasa yang ada di semaknya,” Woo Young pun ikut menambahkan.

“Bagaimana dengan pemilik galeri itu, Ketua? Bukankah terakhir kali Min Soo Min terlihat memang bersamanya? Bukankah karena itu pula Ketua meminta Won Geun hyung untuk menyelidiki latar belakang orang itu?” Soo Jin menimpali.

“Oh! Soal itu, aku menemukan sesuatu, Ketua.” Baek Ji buru-buru membuka folder dan jelas tertayang langsung di layar proyeksi. “Awalnya aku cukup bingung kenapa Ketua mencurigai orang seramah Kim Tae Soo. Tapi, aku setuju dengan Soo Jin hyung, dia adalah orang yang paling terakhir bertemu dengan Min Soo Min. Selain itu, kalian bisa melihat ini sebentar!” klik. Baek Ji memutar sebuah video CCTV di lantai, tepatnya bagian depan, yaitu tempat kerja Min Soo Min. Nampak Min Soo Min baru saja keluar dari lift. Kemudian klik! Ia mem-pause-nya. “Ada sesuatu yang dibawa oleh Min Soo Min setelah keluar dari lift.” Mendengar hal ini, ketiga orang itu memperhatikannya dengan cermat.

“Itu seperti…” Won Geun menyipitkan matanya, berusaha lebih fokus. “Bukankah itu pisau dapur?” terkanya yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Baek Ji.

“Min Soo Min diduga dibunuh menggunakan benda seukuran pisau dapur,” Soo Jin berspekulasi. “Itu artinya…” Soo Jin hampir meraba sendiri keadaannya.

“Tidak bisa disimpulkan secepat itu. Karena kita juga melihat kalau Min Soo Min bahkan keluar dari sana dalam keadaan hidup-hidup,” tanggap Woo Young yang jelas langsung disapa desahan kecewa dari Baek Ji dan Soo Jin yang sudah geram dengan pelaku pembunuhan itu.

“Tapi untuk apa Min Soo Min membawa pisau ke dalam ruangan Kim Tae Soo? Dan darimana dia mendapatkannya?” tanya Soo Jin yang masih saja penasaran pasal pisau itu.

“Kudengar ada cafeteria di lantai 5. Bisa saja Kim Tae Soo yang menyuruhnya untuk mengupas buah atau semacamnya. Aku yakin, dia akan mengatakan jawaban persis seperti yang aku katakan kalau kita menanyainya kembali,” tanggap Won Geun. Kedua juniornya kini yang manggut-manggut.

“Lupakan sebentar soal itu. Bagaimana berkas yang kusuruh memeriksa ulang itu?” Woo Young mengingatkan Soo Jin soal tugasnya.

“Ne. Aku sudah menyelidiki semua tentang orang-orang hilang itu. Sebagian besar kegiatan sosial media mereka terhenti sejak dua hari dilaporkan hilang oleh pihak keluarga. Sebagian besar web yang mereka akses adalah masalah kecantikan. Tentang menghilangkan komedo, jerawat, menyulam alis, mempermerah bibir dan semacamnya,” terang Soo Jin sigap membuka-buka catatannya. “Sebagian besar mereka lahir dan tumbuh di Gangnam Gu, sebagian lagi di Seoul, dan sebagian lagi di Gyeonggi.”

“Gyeonggi?” tanya Woo Young memastikan.

“Ne. Mereka semua memang tinggal di Seoul, tapi tidak semua dari mereka yang lahir juga di Seoul.”

“Aku sudah menyamakan sedikit informasi dari Tae Soo ke informasi yang didapat Soo Jin ini, Hyung,” tambah Won Geun. “Baik sekolah maupun tempat kerja orang-orang yang hilang itu, ada kaitannya dengan Kim Tae Soo.”

“Maksudmu?”

“Kim Tae Soo tidak hanya menjadi pemilik galeri terbesar di Seoul, bahkan seluruh Korea Selatan. Selain cukup terkenal di dunia lukis baik di Korea maupun Asia, dia sendiri menanamkan banyak saham ke sekolah-sekolah dan perusahaan-perusahaan lain yang rata-rata adalah tempat kerja dari orang-orang yang hilang itu. Kalaupun dari orang-orang itu tidak ada hubungannya, rumah sakit yang pernah dikunjungi pun adalah rumah sakit milik teman atau mitra bisnis Tae Soo. Ah, dan satu lagi! Yang mengadakan audisi itu adalah agensi yang disponsori pula oleh Kim Tae Soo,” terangnya panjang lebar.

“Sepertinya kita dapat tersangka baru yang bakal menjadi calon tersangka utama, kan?” selidik Baek Ji sedikit senang. Won Geun memberinya senyuman tipis sebagai balasan. Walaupun tak semudah itu untuk menentukan tersangka utama.

“Apalagi yang kau dapat soal Kim Tae Soo?” Woo Young nampaknya lebih tertarik dengan laporan dari Won Geun.

“Kim Tae Soo punya tempat tinggal di lantai teratas di gedung itu, dan satu lantai adalah tempat tinggalnya semua. Dia berasal dari Panti Asuhan Cinta di daerah Gyeonggi dan menetap di Apgujeong Dong sejak 10 tahun yang lalu.”

“Mantan Min Soo Min dari Gyeonggi, kan?” tanya Baek Ji pada Soo Jin. Karena jawabannya pun benar, Soo Jin hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian ketiganya diam. Menunggu perintah selanjutnya dari Woo Young yang masih nampak berpikir.

“Pertama, Won Geun! Selidiki terus daftar tersangka yang sudah ada di kita, dan pastikan kepulangan Oh Chae Ryeong dapat dipercepat atau tidak.  Soo Jin, kau bisa meminta berkas-berkas kasus orang hilang ke kantor kepolisian di Distrik lain, dan cocokkan apa ada hubungannya dengan Kim Tae Soo!”

“Ne!” Soo Jin mengangguk mantap.

“Baek Ji, kau periksa kembali CCTV di TKP dan gedung milik Tae Soo!”

“Ne!”

“Aku akan memastikan kesaksian dari Kim Tae Soo dan meminta video CCTV dari seluruh lantai yang ada di gedung itu.” Selesai, mereka siap menjalankan tugas. Baek Ji dan Soo Jin duluanlah yang meninggalkan ruangan. Sedangkan Woo Young tertahan oleh Won Geun yang tiba-tiba menepuk pundaknya pelan.

“Ada apa?”

“Hyung, biar aku yang menemui Kim Tae Soo,” ujar Won Geun.

“Mwo? Wae?”

“Bukankah hari ini kau ada janji?”

“Janji?” Woo Young nampak berpikir. Janji seperti apa kira-kira yang membuatnya harus menunda keberangkatannya untuk menjalankan tugas. Tapi melihat kembali sorot mata yang diberikan Won Geun, ia ingat akan janji itu. Dia mengangguk.

“Ah, janji itu?”

***

Elktrokardiogram[3] masih berbunyi. Garis-garis tak beraturan yang tampil di monitor menunjukkan masih adanya kehidupan. Tubuh itu terbaring, dengan mata yang sangat rekat tertutup. Ventilator[4] di atas mulut dan hidung, selang infuse yang menghubungkan air bening dari kantung yang tergantung di sampingnya, dan blood bag yang mengalir bersamaan ke dalam tubuh kurusnya. Dengan banyak kabel yang melekat di dadanya, siapa saja akan miris melihatnya.

Meski begitu, orang yang baru saja masuk secara perlahan ke sana, mencoba bertahan. Walau hatinya gemetaran, tak menjadikannya putus harapan. Digapainya jemari si tak berdaya itu. Ada sebuah cincin perak yang membalut jari manisnya. Wajahnya yang pucat pasti ia pandangi. Kursi plastik di dekatnya ia tarik dan ia duduk, mendampingi di sebelahnya. Setetes air meluncur dari matanya membasahi tangan yang genggam. Itu basah. Walau harapan sesungguhnya orang ini akan merasakan. Tapi sedikit pun, tak ada reaksi apapun.

“Nuna…” panggilnya begitu lirih. Suaranya tersesat di sudut lorong tenggorokannya. Hingga ia tak bisa bersuara lagi. Butuh beberapa saat untuk melakukan pemanasan.

Sementara di tempat lain, jauh dari peralatan medis yang menyedihkan itu, ruangan-ruangan di tempat ini menyimpan banyak sekali lemari. Dalam lemari-lemari itu ada sebuah ruang-ruang kecil yang menyimpan guci-guci dengan beberapa lembar foto, si pemilik guci itu. Bisa saja ada benda lain, seperti bunga, atau benda-benda yang berhubungan dengan si pemilik, semisal kalung atau semacamnya. Kemudian salah satu ruang di lemari itu didatangi oleh seseorang. Pakaiannya sudah sangat rapi, dengan setelan jas hitam dan kemeja putihnya. Tanpa dasi memang. Tapi dengan membawa senyumnya, ia dengan percaya dirinya menatap foto di dekat guci itu. “Anyeong[5]!” sapanya pada si pemilik. Foto itu mengabadikan senyuman yang sangat manis. Hingga ia ikut tersenyum lebih lebar karenanya. “Bagaimana kabarmu hari ini, Seok Ryeong~a? Eun Seok Ryeong?”

Eun Seok Ryeong, si pemilik guci yang menempati salah satu ruang atas di lemari di tempat itu, menampilkan selembar foto cantik sebagai potret dari Eun Seok Ryeong sendiri. Rambut panjangnya, dan lekuk wajahnya menunjukkan bahwa dia memanglah wanita yang sangat cantik. Untuk si pengunjung itu, ialah yang memiliki janji tadi, yaitu Jo Woo Young, memang di sinilah tempat Eun Seok Ryeong tinggal sekarang. Di dalam guci, di ruangan kecil di lemari ini. Dengan sebuah bunga mawar kecil yang mengering, dan baru diganti oleh Woo Young, serta satu lembar foto lagi di sebelahnya. Adalah foto Woo Young sendiri bersama Eun Seok Ryeong. Bila mengingat saat ia bisa berduaan dengan Eun Seok Ryeong seperti itu, rasa rindunya tentu saja ia terima dengan suka hati.

Sedang bagi Jo Woo Hyun, orang yang mengunjungi tubuh dengan banyak peralatan yang menunjang hidupnya itu, Eun Seok Ryeong tidak pernah tinggal di sana. Justru Eun Seok Ryeong ada di sini. Ada di dekatnya. Tangannya masih dengan eratnya ia genggam. Masih dengan senantiasanya ia membasahinya dengan air mata. Wajahnya memang tak sebahagia di foto itu. Wajahnya memang tak secerah di foto itu. Tapi hal lain dari kunjungan Woo Hyun dari kunjungan Woo Young adalah, Eun Seok Ryeong masih dinyatakan bernafas.

“Bagaimana kabarmu hari ini, Nuna?” suara Woo Hyun yang tersesat akhirnya bisa keluar. Walau kedengarannya masih sangat terlunta, terlalu serak dan getir kedengarannya. Meski pun Eun Seok Ryeong yang dikunjungi Woo Hyun ini bernafas, bahkan jantungnya pun masih berdetak normal, tapi bibrnya tidak terbuka. Matanya masih tertutup. Dan tentu tak ada jawaban dari pertanyaannya. Sama seperti pertanyaan Woo Young di tempat Eun Seok Ryeong yang satu lagi. Woo Hyun dan Woo Young mengunjungi orang yang sama, tapi dalam kondisi yang berbeda.

Daripada miris melihat keadaan Eun Seok Ryeong di ranjang itu, ia, seseorang yang tak pernah keluar dari ruangan ini, yang ditugaskan untuk selalu memastikan peralatan itu ada di tubuh wanita malang itu, lebih miris melihat Jo Woo Hyun. Tak pernah luput 1 hari pun Woo Hyun tak mengunjungi tempat ini. Satu tempat tersendiri yang diberikan oleh Kim Tae Soo sebagai awal bermulanya Kim Tae Soo bisa bertemu dengan Jo Woo Hyun dan menjadikannya pesuruh pribadinya selama ini. Pria berjas putih itu menghela nafasnya. Mengingat kejadian 3 tahun yang lalu. Saat itu ia dan Tae Soo sedang berjalan di rumah sakit yang didirikan Tae Soo sendiri di daerah Suseo Dong, yang mengatas namakan orang lain, sehingga tak ada satu orang pun yang sadar kalau itu memang milik si orang kaya itu. Mereka melewati depan ruang ICU dan melihat Woo Hyun tengah berteriak-teriak pada beberapa dokter yang ada di sana. Tak luput pula perawat-perawat yang lain pun jadi bahan amukannya.

“Andwae![6] Kalian tidak boleh melepaskan peralatan itu! Nuna belum mati! Nuna masih hidup!” raungnya tak karuan. Tae Soo tertarik, hingga akhirnya ia memilih berhenti. Menunda pula obrolan sebelumnya saat berjalan ke sana.

“Shin Uisa[7], di sana itu ada apa?” tanyanya kemudian. Shin Min Hyuk, tentu juga tak tahu apa yang terjadi. Sejak tadi kan dia bersama Kim Tae Soo.

“Entahlah, Sajangnim,” jawabnya jujur.

“Bisakah kau ke sana dan menanyakannya?” pinta Tae Soo tanpa beralih sedikit pun dari adegan itu. Min Hyuk pun menyanggupinya. Ia berjalan mendekat, dan memanggil salah seorang dokter yang dirasanya cukup longgar menanggapi Jo Woo Hyun. Selintas mereka terlibat sebuah percakapan. Meski dokter itu saja yang banyak menjelaskan pada Min Hyuk. Barulah setelah selesai, ia kembali ke Tae Soo. “Dia adalah wali dari pasien yang ada di ruangan itu. Kang Uisa~nim[8] sudah menyatakan kematian pada otak pasien. Pasien hidup hanya dengan alat bantu. Tapi, karena tidak adanya progres dari pasien itu, dokter ingin melepaskan alat bantunya,” jelasnya.

“Dan bocah itu tidak menerimanya?” tanya Tae Soo yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Min Hyuk. Tae Soo diam sebentar. Matanya masih enggan beralih dari Woo Hyun. Kepalanya memikirkan sesuatu yang memunculkan senyumannya. “Shin Uisa!” panggilnya.

“Ne?”

“Bersiaplah untuk pindah tugas dari sini!”

“Ne?” Min Hyuk tak begitu paham apa maksud dari Kim Tae Soo sebenarnya.

“Walaupun kau adalah dokter baru di sini, kurasa kemampuanmu sudah lebih dari cukup untuk menangani seorang pasien,” penjelasan Tae Soo justru tambah tak dapat dimerti oleh Min Hyuk. 
“Selain itu…” lanjutnya lagi. “… orang yang kuberi rumah sakit ini sudah mati. Aku butuh pemilik yang baru.”

Dan seperti itulah bagaimana ia berakhir di sini. Hanya satu pasien yang ia tangani, adalah Eun Seok Ryeong, yang sama sekali tak ada kemajuan sejak 3 tahun berpindah alih ke tangannya. Tapi ia terpaksa tetap mempertahankannya. Bukan karena Woo Hyun, tapi karena Tae Soo sendiri yang memerintahkannya untuk memenuhi keinginan Woo Hyun. “Jika dia sendiri tidak meminta untuk melepaskannya, kita tidak perlu melepaskannya,” katanya dengan nada datar.

Mungkin jika Shin Min Hyuk melihat pula bagaimana seorang Jo Woo Young yang selama 3 tahun menganggap pasiennya itu sudah meninggalkan dunia untuk selama-lamanya, akan merasa lebih miris lagi. Dia yang berdiri di hadapan pemakamannya itu adalah untuk memperingati tahun ke-3 kematiannya, sama sekali tak tahu kalau adiknya sendiri masih mempertahankan tubuhnya di tempat lain. Bahkan tiap kedatangannya kemari selalu saja ada kata, “Mianhae. Aku tak bisa mengajak Woo Hyun. Kau tahu kan? Dia belum bisa menerima kematianmu sepenuhnya.” Yang diingatnya adalah saat itu ia masih di Mokpo. Tentu dalam menjalankan tugasnya sebagai penyidik negara. Hari itu ia menerima telpon dari kakak Seok Ryeong.

“Kau di mana sekarang?”

“Aku sedang bertugas di Mokpo, Hyung. Ada apa?”

“Woo Young~a… Woo Young~a…” dan hanya suara isak tangis yang terdengar darinya. Hari itu juga Woo Young kembali ke Seoul. “Seok Ryeong, dia meninggal karena sebuah kecelakaan,” penjelasan naas ini membuat hatinya hancur selama perjalanan pulang. Saat ia sudah sampai di rumah duka, foto besar Seok Ryeong sudah ada di ruangan utama dengan karangan bunga besar serta beberapa sesajian di bawahnya. Isak tangis keluarga, sanak saudara, dan teman-teman melemaskan kakinya melangkah masuk ke sana. Sedang Woo Hyun hanya diam melihat kedatangannya. Woo Young yang begitu terpukul tak bisa mengeluarkan suara sedikit pun. Sedang tangisnya tiada henti mengalir. Woo Hyun yang menyembunyikan kebenaran soal Seok Ryeong bungkam. Seharusnya ia ikut menangis, tapi ia tak menangisi orang yang belum mati. Sekuat tenaga ia bertahan, walaupun terlalu sakit melihat cincin masih bertengger manis di jari manis kakaknya. Sedang milik Seok Ryeong ia genggam kuat-kuat.

Sebagai kalimat penutup tiap kunjungannya, Woo Young akan mengatakan, “Maaf, ya? Sampai sekarang aku belum menemukan cincinmu.” Sedangkan Woo Hyun selalu meminta, “Kumohon, bertahanlah sebentar lagi, Nuna. Sebentar lagi, dan aku akan mempertemukanmu dengan Woo Young hyung dan kau akan sembuh dan segera menikah dengannya. Oke?” dan untuk kedua orang itu, sama sekali tak ada tanggapan yang akan diberikan oleh Eun Seok Ryeong.


Sebelumnya                              Selanjutnya


[1] Ayo makan
[2] Jangan sakit
[3] Alat pendeteksi detak jantung
[4] Alat bantu pernapasan
[5] Halo (informal)
[6] Tidak. Bisa juga berarti tidak bisa. Bergantung situasi.
[7] Dokter Shin
[8] Imbuhan ~nim biasa berada di belakang panggilan profesi untuk lebih menghormatinya, atau dalam situasi formal