“Arkh…” ia terbangun
dengan sakit di sekujur tubuhnya. Rasanya pinggangnya hampir copot. Kalau saja
perutnya tak perlu diberi asupan, atau tenggorokannya tak perlu dialiri air, ia
mungkin tak akan bangun. Berbaring setidaknya seharian saja, mungkin bisa lebih
baik. Tapi, yah. Itu hanya pengandaian saja.
Yang Ki Jae dengar
pertama kali membuka pintu kamarnya adalah suara dari ruang tamu. Apa ada
orang? Karena yang ia dengar seperti suara beberapa alat makan yang tertata di
meja. Persis setiap pagi kalau ada Hyo Kyung di sini. Suara yang sama, tentu
milik orang yang sama. Hyo Kyung sudah ada di sana saat ia melangkah karena
penasaran dengan suara itu. Meja ruang tamu itu sudah penuh dengan makanan.
“Kau sudah bangun?”
Hyo Kyung menyambut kedatangannya dengan senyum cerah. Meski tak sepadan benar
dengan aura di wajahnya. Ini hanya hari Jum’at, bukan akhir pekan. Lantas
kenapa Hyo Kyung sudah pulang sekarang? Ah, Ki Jae sendiri tak tertarik untuk
menanyakanya. Makannya Ki Jae memilih untuk berlalu. Hyo Kyung sebenarnya
sempat menahannya. Tapi tak digubrisnya dan ia masuk ke kamar mandi. Berharap
saat keluar Hyo Kyung tidak ada, tapi nyatanya gadis itu masih ada di sana.
Dengan makanan yang belum ia sentuh sama sekali. “Mokja[1]!
Ajaknya pelan. Ki Jae hanya memandanginya dengan handuk yang menggantung di
lehernya. Sampai akhirnya ia memilih untuk tidak peduli lagi. Kembali berlalu
dan masuk ke kamarnya.
Ia keluar, dengan
seragam yang sudah melengkapi tubuhnya. Kali ini Hyo Kyung tak membiarkannya
pergi. Ditariknya tangan kirinya sebelum benar-benar hengkang dari hadapannya.
“Makanlah dulu,” pintanya dengan nada memelas.
“Wae?” akhirnya Ki Jae
memberi respon. Ia berbalik dan melempari kakaknya dengan tatapan sinis luar
biasa. “Kurasa tak masalah juga kalau aku tidak makan. Apa pedulimu?” tanyanya
begitu ketus. Terang saja hati Hyo Kyung sakit bukan main. Tapi ini bukan salah
Ki Jae. Ki Jae tak tahu apapun dan tak sepatutnya ia membenci perkataannya yang
sangat sarkas itu.
“Ki Jae~ya…” suara Hyo
Kyung begitu parau. Jauh mengesampingkan rasa kesalnya, sesungguhnya Ki Jae
sendiri tak suka bersikap seperti ini pada Hyo Kyung. Dia hanya merasa egonya
terlalu tinggi. Dan sepertinya pun itu lebih baik diutamakan dulu daripada rasa
ibanya. Ia hanya ingin membuat kakaknya ini mengerti apa yang diinginkannya,
yang tak lain adalah tidak meninggalkannya seorang diri. “…sekali saja. Hanya
sekali saja, tidak bisakah kau memberi nuna beberapa waktu untuk menjelaskannya
kepadamu?”
“Menjelaskan tentang
apa? Aku juga tidak penasaran soal apapun!”
“Beri nuna waktu. Nuna
akan menjelaskan semuanya.”
“Nuna…” Ki Jae
menyingkirkan tangan Hyo Kyung di tangan kirinya. “…kau tidak perlu
menjelaskannya. Aku tidak membutuhkannya,” sentaknya begitu lirih. Ia hampir
meninggalkan Hyo Kyung. “Janji itu!” hanya saja sentakan Hyo Kyung yang satu
ini membuatnya berhenti. Ia belum berbalik, tapi pendengarannya siap untuk
menampung kata-katanya selanjutnya. “Nuna tidak akan meninggalkanmu seperti
eomma. Nuna akan selalu menjaga janji itu.” Hati Ki Jae tergugah. Akhirnya dia
berbalik. Memepersilahkan Hyo Kyung untuk bicara lebih banyak.
“Sekarang Nuna belum
bisa menjelaskannya. Nuna ingin mengatakannya, tapi nuna tidak bisa. Tidak
sekarang. Nuna berjanji, nuna berjanji akan mengatakan alasannya. Nuna mohon…
Ki Jae~ya… Nuna mohon kau mengerti nuna sekali ini saja. Eoh?” Hyo Kyung
kelihatan menyedihkan sekali. Walaupun tak ada respon dari Ki Jae, tapi dalam hati
ia memikirkan permintaannya, mencoba mengerti posisi kakaknya. Membiarkan
kakaknya memohon lebih lama, bukanlah kemauannya. Egonya banyak meluntur. Ia
tak mau kalau-kalau air yang tertahan di mata itu tumpah nantinya.
“Sebelum
berangkat, makanlah dulu,” lirih Hyo Kyung. Ia paham luluhnya Ki Jae sekarang.
Dalam hitungan detik, bocah itu kembali menjadi adik seperti biasanya. Walaupun
tak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya, Ki Jae berbalik. Duduk bersila
dan melahap semua yang disediakan Hyo Kyung dengan begitu tergesa-gesanya. Satu
suap, dua suap, sampai mulutnya penuh karena belum ada sedikit pun yang
tertelan. Kepalanya tertunduk merasakan air mata yang kurang ajarnya mengalir
begitu saja.
Hyo Kyung pun
mengikutinya. Daging dan kimchi ia masukkan ke mangkuk Ki Jae. Hatinya mencelos
mendengar kata, “Appojima[2]!”
begitu lirihnya dari bibir Ki Jae. Air matanya ikut tumpah. Ki Jae tak
sepenuhnya membencinya. Hyo Kyung paham, egonya barusan hanya bentuk rasa
pedulinya yang sangat dalam pada kakaknya sendiri.
“Pelan-pelan makannya.
Kau bisa tersedak nanti,” ujarnya menambah beberapa lauk lagi di mangkuk Ki
Jae. Dan Ki Jae terus saja memenuhi mulutnya disertai derai air mata dan
sesenggukannya.
***
“Aku dan Do Guk sudah
mendatangi kampusnya. Bertanya pada semua mahasiswa yang mengenalnya. Semua
jawabannya seperti disejajarkan. Tidak ada yang berbeda. Sepertinya Oh Chae Rim
tidak punya teman sama sekali. Tidak ada satu orang pun di kampus itu yang
menyukainya,” lapor Baek Ji pada Woo Young. Mereka kembali berkumpul di tempat
yang sama. Tentu untuk melaporkan apa-apa saja yang sudah menjadi tugas mereka.
“Kami pun sudah mendatangi seluruh salon di Gangnam Gu dan beberapa salon yang
sering ia kunjungi juga memberikan kesaksian yang sama. Kepribadian Oh Chae Rim
yang suka memerintah orang lain sangat dibenci pegawai salon-salon itu.
Terakhir Oh Chae Rim ke sana adalah dua jam sebelum audisinya, yaitu salon di
seberang jalan depan tempat audisnya.Karena aku mendengar tuturan dari
teman-temannya kalau dia ingin operasi plastik, kami juga mengunjungi klinik
bedah plastik dan tidak ada nama Oh Chae Rim sebagai salah satu pasien mereka,”
lanjutnya lagi. Ketiga rekan serta ketua timnya mengangguk-angguk jelas atas
laporan yang dibuatnya.
“Bagaimana dengan
daftar tersangka lain, selain Oh Chae Rim?” tanya Woo Young kepada siapa saja
yang mau menjawab.
“Tersangka yang cukup
untuk dicurigai adalah mantan kekasihnya. Sehari setelah Min Soo Min tidak
bekerja, dia tidak ada di rumahnya. Alibinya memang pergi ke China. Tapi kami
belum memastikan apakah dia benar-benar pergi ke China atau menemui Min Soo
Min. Jika memang mantan kekasihnya adalah pembunuhnya, bisa saja Min Soo Min
datang menemuinya dan mereka bertengkar hebat. Kemudian terjadilah pembunuhan
itu,” Won Geun yang menjawabnya.
“Tapi kita tak punya
bukti yang sangat kuat untuk memberatkannya sebagai tersangka, begitu?” Woo
Young menegaskan. Dan Won Geun pun mengangguk membenarkan. “Yang lain?”
“Tersangka yang bisa
kita curigai sebenarnya adalah orang-orang yang ada di TKP. Tapi, karena mereka
semua sudah memberikan kesaksian, dan kita pun sudah memeriksa CCTV-nya, bahwa
memang tidak ada yang masuk sebelum, bersama, atau pun tepat setelah Oh Chae
Rim masuk, maka alibi mereka sukses. Dan tidak ada yang mencurigakan dari
kesaksian mereka kemarin. Selain itu, mereka semua adalah wanita, yang tidak
memungkinkan untuk membawa mayat Min Soo Min tanpa ketahuan CCTV,” giliran Soo
Jin ambil bagian, seperti biasa memberi hipotesisnya. Woo Young nampak
manggut-manggut, setuju dengan pendapatnya. “Saat kulihat jarak jendelanya
kemarin, mustahil juga jika wanita melompat masuk dari luar. Karena tidak ada
wastafel yang bisa dijadikan pijakan untuk meraih tempat setinggi itu. Kalaupun
ia menggunakan sesuatu untuk memanjat, seharusnya bekasnya bisa ditemukan di
sana. Tapi yang kutemukan hanya kerusakan biasa yang ada di semaknya,” Woo
Young pun ikut menambahkan.
“Bagaimana dengan
pemilik galeri itu, Ketua? Bukankah terakhir kali Min Soo Min terlihat memang
bersamanya? Bukankah karena itu pula Ketua meminta Won Geun hyung untuk
menyelidiki latar belakang orang itu?” Soo Jin menimpali.
“Oh! Soal itu, aku
menemukan sesuatu, Ketua.” Baek Ji buru-buru membuka folder dan jelas tertayang
langsung di layar proyeksi. “Awalnya aku cukup bingung kenapa Ketua mencurigai
orang seramah Kim Tae Soo. Tapi, aku setuju dengan Soo Jin hyung, dia adalah
orang yang paling terakhir bertemu dengan Min Soo Min. Selain itu, kalian bisa
melihat ini sebentar!” klik. Baek Ji memutar sebuah video CCTV di
lantai, tepatnya bagian depan, yaitu tempat kerja Min Soo Min. Nampak Min Soo
Min baru saja keluar dari lift. Kemudian klik! Ia mem-pause-nya.
“Ada sesuatu yang dibawa oleh Min Soo Min setelah keluar dari lift.” Mendengar
hal ini, ketiga orang itu memperhatikannya dengan cermat.
“Itu seperti…” Won Geun
menyipitkan matanya, berusaha lebih fokus. “Bukankah itu pisau dapur?” terkanya
yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Baek Ji.
“Min Soo Min diduga
dibunuh menggunakan benda seukuran pisau dapur,” Soo Jin berspekulasi. “Itu
artinya…” Soo Jin hampir meraba sendiri keadaannya.
“Tidak bisa disimpulkan
secepat itu. Karena kita juga melihat kalau Min Soo Min bahkan keluar dari sana
dalam keadaan hidup-hidup,” tanggap Woo Young yang jelas langsung disapa
desahan kecewa dari Baek Ji dan Soo Jin yang sudah geram dengan pelaku
pembunuhan itu.
“Tapi untuk apa Min Soo
Min membawa pisau ke dalam ruangan Kim Tae Soo? Dan darimana dia
mendapatkannya?” tanya Soo Jin yang masih saja penasaran pasal pisau itu.
“Kudengar ada cafeteria
di lantai 5. Bisa saja Kim Tae Soo yang menyuruhnya untuk mengupas buah atau
semacamnya. Aku yakin, dia akan mengatakan jawaban persis seperti yang aku
katakan kalau kita menanyainya kembali,” tanggap Won Geun. Kedua juniornya kini
yang manggut-manggut.
“Lupakan sebentar soal
itu. Bagaimana berkas yang kusuruh memeriksa ulang itu?” Woo Young mengingatkan
Soo Jin soal tugasnya.
“Ne. Aku sudah
menyelidiki semua tentang orang-orang hilang itu. Sebagian besar kegiatan
sosial media mereka terhenti sejak dua hari dilaporkan hilang oleh pihak
keluarga. Sebagian besar web yang mereka akses adalah masalah kecantikan.
Tentang menghilangkan komedo, jerawat, menyulam alis, mempermerah bibir dan
semacamnya,” terang Soo Jin sigap membuka-buka catatannya. “Sebagian besar
mereka lahir dan tumbuh di Gangnam Gu, sebagian lagi di Seoul, dan sebagian
lagi di Gyeonggi.”
“Gyeonggi?” tanya Woo
Young memastikan.
“Ne. Mereka semua
memang tinggal di Seoul, tapi tidak semua dari mereka yang lahir juga di
Seoul.”
“Aku sudah menyamakan
sedikit informasi dari Tae Soo ke informasi yang didapat Soo Jin ini, Hyung,”
tambah Won Geun. “Baik sekolah maupun tempat kerja orang-orang yang hilang itu,
ada kaitannya dengan Kim Tae Soo.”
“Maksudmu?”
“Kim Tae Soo tidak
hanya menjadi pemilik galeri terbesar di Seoul, bahkan seluruh Korea Selatan.
Selain cukup terkenal di dunia lukis baik di Korea maupun Asia, dia sendiri
menanamkan banyak saham ke sekolah-sekolah dan perusahaan-perusahaan lain yang
rata-rata adalah tempat kerja dari orang-orang yang hilang itu. Kalaupun dari
orang-orang itu tidak ada hubungannya, rumah sakit yang pernah dikunjungi pun
adalah rumah sakit milik teman atau mitra bisnis Tae Soo. Ah, dan satu lagi!
Yang mengadakan audisi itu adalah agensi yang disponsori pula oleh Kim Tae
Soo,” terangnya panjang lebar.
“Sepertinya kita dapat
tersangka baru yang bakal menjadi calon tersangka utama, kan?” selidik Baek Ji
sedikit senang. Won Geun memberinya senyuman tipis sebagai balasan. Walaupun
tak semudah itu untuk menentukan tersangka utama.
“Apalagi yang kau dapat
soal Kim Tae Soo?” Woo Young nampaknya lebih tertarik dengan laporan dari Won
Geun.
“Kim Tae Soo punya
tempat tinggal di lantai teratas di gedung itu, dan satu lantai adalah tempat
tinggalnya semua. Dia berasal dari Panti Asuhan Cinta di daerah Gyeonggi dan
menetap di Apgujeong Dong sejak 10 tahun yang lalu.”
“Mantan Min Soo Min
dari Gyeonggi, kan?” tanya Baek Ji pada Soo Jin. Karena jawabannya pun benar,
Soo Jin hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian ketiganya diam. Menunggu
perintah selanjutnya dari Woo Young yang masih nampak berpikir.
“Pertama, Won Geun!
Selidiki terus daftar tersangka yang sudah ada di kita, dan pastikan kepulangan
Oh Chae Ryeong dapat dipercepat atau tidak.
Soo Jin, kau bisa meminta berkas-berkas kasus orang hilang ke kantor
kepolisian di Distrik lain, dan cocokkan apa ada hubungannya dengan Kim Tae Soo!”
“Ne!” Soo Jin
mengangguk mantap.
“Baek Ji, kau periksa
kembali CCTV di TKP dan gedung milik Tae Soo!”
“Ne!”
“Aku akan memastikan
kesaksian dari Kim Tae Soo dan meminta video CCTV dari seluruh lantai yang ada
di gedung itu.” Selesai, mereka siap menjalankan tugas. Baek Ji dan Soo Jin
duluanlah yang meninggalkan ruangan. Sedangkan Woo Young tertahan oleh Won Geun
yang tiba-tiba menepuk pundaknya pelan.
“Ada apa?”
“Hyung, biar aku yang
menemui Kim Tae Soo,” ujar Won Geun.
“Mwo? Wae?”
“Bukankah hari ini kau
ada janji?”
“Janji?” Woo Young
nampak berpikir. Janji seperti apa kira-kira yang membuatnya harus menunda
keberangkatannya untuk menjalankan tugas. Tapi melihat kembali sorot mata yang
diberikan Won Geun, ia ingat akan janji itu. Dia mengangguk.
“Ah, janji itu?”
***
Elktrokardiogram[3]
masih berbunyi. Garis-garis tak beraturan yang tampil di monitor menunjukkan
masih adanya kehidupan. Tubuh itu terbaring, dengan mata yang sangat rekat
tertutup. Ventilator[4]
di atas mulut dan hidung, selang infuse yang menghubungkan air bening dari
kantung yang tergantung di sampingnya, dan blood bag yang mengalir
bersamaan ke dalam tubuh kurusnya. Dengan banyak kabel yang melekat di dadanya,
siapa saja akan miris melihatnya.
Meski begitu, orang
yang baru saja masuk secara perlahan ke sana, mencoba bertahan. Walau hatinya
gemetaran, tak menjadikannya putus harapan. Digapainya jemari si tak berdaya
itu. Ada sebuah cincin perak yang membalut jari manisnya. Wajahnya yang pucat
pasti ia pandangi. Kursi plastik di dekatnya ia tarik dan ia duduk, mendampingi
di sebelahnya. Setetes air meluncur dari matanya membasahi tangan yang genggam.
Itu basah. Walau harapan sesungguhnya orang ini akan merasakan. Tapi sedikit
pun, tak ada reaksi apapun.
“Nuna…” panggilnya
begitu lirih. Suaranya tersesat di sudut lorong tenggorokannya. Hingga ia tak
bisa bersuara lagi. Butuh beberapa saat untuk melakukan pemanasan.
Sementara di tempat
lain, jauh dari peralatan medis yang menyedihkan itu, ruangan-ruangan di tempat
ini menyimpan banyak sekali lemari. Dalam lemari-lemari itu ada sebuah ruang-ruang
kecil yang menyimpan guci-guci dengan beberapa lembar foto, si pemilik guci
itu. Bisa saja ada benda lain, seperti bunga, atau benda-benda yang berhubungan
dengan si pemilik, semisal kalung atau semacamnya. Kemudian salah satu ruang di
lemari itu didatangi oleh seseorang. Pakaiannya sudah sangat rapi, dengan
setelan jas hitam dan kemeja putihnya. Tanpa dasi memang. Tapi dengan membawa
senyumnya, ia dengan percaya dirinya menatap foto di dekat guci itu. “Anyeong[5]!”
sapanya pada si pemilik. Foto itu mengabadikan senyuman yang sangat manis.
Hingga ia ikut tersenyum lebih lebar karenanya. “Bagaimana kabarmu hari ini,
Seok Ryeong~a? Eun Seok Ryeong?”
Eun Seok Ryeong, si
pemilik guci yang menempati salah satu ruang atas di lemari di tempat itu,
menampilkan selembar foto cantik sebagai potret dari Eun Seok Ryeong sendiri.
Rambut panjangnya, dan lekuk wajahnya menunjukkan bahwa dia memanglah wanita
yang sangat cantik. Untuk si pengunjung itu, ialah yang memiliki janji tadi,
yaitu Jo Woo Young, memang di sinilah tempat Eun Seok Ryeong tinggal sekarang.
Di dalam guci, di ruangan kecil di lemari ini. Dengan sebuah bunga mawar kecil
yang mengering, dan baru diganti oleh Woo Young, serta satu lembar foto lagi di
sebelahnya. Adalah foto Woo Young sendiri bersama Eun Seok Ryeong. Bila
mengingat saat ia bisa berduaan dengan Eun Seok Ryeong seperti itu, rasa
rindunya tentu saja ia terima dengan suka hati.
Sedang bagi Jo Woo
Hyun, orang yang mengunjungi tubuh dengan banyak peralatan yang menunjang
hidupnya itu, Eun Seok Ryeong tidak pernah tinggal di sana. Justru Eun Seok
Ryeong ada di sini. Ada di dekatnya. Tangannya masih dengan eratnya ia genggam.
Masih dengan senantiasanya ia membasahinya dengan air mata. Wajahnya memang tak
sebahagia di foto itu. Wajahnya memang tak secerah di foto itu. Tapi hal lain
dari kunjungan Woo Hyun dari kunjungan Woo Young adalah, Eun Seok Ryeong masih
dinyatakan bernafas.
“Bagaimana kabarmu hari
ini, Nuna?” suara Woo Hyun yang tersesat akhirnya bisa keluar. Walau
kedengarannya masih sangat terlunta, terlalu serak dan getir kedengarannya.
Meski pun Eun Seok Ryeong yang dikunjungi Woo Hyun ini bernafas, bahkan
jantungnya pun masih berdetak normal, tapi bibrnya tidak terbuka. Matanya masih
tertutup. Dan tentu tak ada jawaban dari pertanyaannya. Sama seperti pertanyaan
Woo Young di tempat Eun Seok Ryeong yang satu lagi. Woo Hyun dan Woo Young
mengunjungi orang yang sama, tapi dalam kondisi yang berbeda.
Daripada miris melihat
keadaan Eun Seok Ryeong di ranjang itu, ia, seseorang yang tak pernah keluar
dari ruangan ini, yang ditugaskan untuk selalu memastikan peralatan itu ada di
tubuh wanita malang itu, lebih miris melihat Jo Woo Hyun. Tak pernah luput 1
hari pun Woo Hyun tak mengunjungi tempat ini. Satu tempat tersendiri yang
diberikan oleh Kim Tae Soo sebagai awal bermulanya Kim Tae Soo bisa bertemu
dengan Jo Woo Hyun dan menjadikannya pesuruh pribadinya selama ini. Pria
berjas putih itu menghela nafasnya. Mengingat kejadian 3 tahun yang lalu. Saat
itu ia dan Tae Soo sedang berjalan di rumah sakit yang didirikan Tae Soo
sendiri di daerah Suseo Dong, yang mengatas namakan orang lain, sehingga tak
ada satu orang pun yang sadar kalau itu memang milik si orang kaya itu. Mereka
melewati depan ruang ICU dan melihat Woo Hyun tengah berteriak-teriak pada beberapa
dokter yang ada di sana. Tak luput pula perawat-perawat yang lain pun jadi
bahan amukannya.
“Andwae![6]
Kalian tidak boleh melepaskan peralatan itu! Nuna belum mati! Nuna masih
hidup!” raungnya tak karuan. Tae Soo tertarik, hingga akhirnya ia memilih
berhenti. Menunda pula obrolan sebelumnya saat berjalan ke sana.
“Shin Uisa[7],
di sana itu ada apa?” tanyanya kemudian. Shin Min Hyuk, tentu juga tak tahu apa
yang terjadi. Sejak tadi kan dia bersama Kim Tae Soo.
“Entahlah, Sajangnim,”
jawabnya jujur.
“Bisakah kau ke sana
dan menanyakannya?” pinta Tae Soo tanpa beralih sedikit pun dari adegan itu.
Min Hyuk pun menyanggupinya. Ia berjalan mendekat, dan memanggil salah seorang
dokter yang dirasanya cukup longgar menanggapi Jo Woo Hyun. Selintas mereka
terlibat sebuah percakapan. Meski dokter itu saja yang banyak menjelaskan pada
Min Hyuk. Barulah setelah selesai, ia kembali ke Tae Soo. “Dia adalah wali dari
pasien yang ada di ruangan itu. Kang Uisa~nim[8]
sudah menyatakan kematian pada otak pasien. Pasien hidup hanya dengan alat
bantu. Tapi, karena tidak adanya progres dari pasien itu, dokter ingin
melepaskan alat bantunya,” jelasnya.
“Dan bocah itu tidak
menerimanya?” tanya Tae Soo yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Min
Hyuk. Tae Soo diam sebentar. Matanya masih enggan beralih dari Woo Hyun.
Kepalanya memikirkan sesuatu yang memunculkan senyumannya. “Shin Uisa!”
panggilnya.
“Ne?”
“Bersiaplah untuk
pindah tugas dari sini!”
“Ne?” Min Hyuk tak
begitu paham apa maksud dari Kim Tae Soo sebenarnya.
“Walaupun kau adalah
dokter baru di sini, kurasa kemampuanmu sudah lebih dari cukup untuk menangani
seorang pasien,” penjelasan Tae Soo justru tambah tak dapat dimerti oleh Min
Hyuk.
“Selain itu…” lanjutnya lagi. “… orang yang kuberi rumah sakit ini sudah
mati. Aku butuh pemilik yang baru.”
Dan seperti itulah
bagaimana ia berakhir di sini. Hanya satu pasien yang ia tangani, adalah Eun
Seok Ryeong, yang sama sekali tak ada kemajuan sejak 3 tahun berpindah alih ke
tangannya. Tapi ia terpaksa tetap mempertahankannya. Bukan karena Woo Hyun,
tapi karena Tae Soo sendiri yang memerintahkannya untuk memenuhi keinginan Woo
Hyun. “Jika dia sendiri tidak meminta untuk melepaskannya, kita tidak perlu
melepaskannya,” katanya dengan nada datar.
Mungkin jika Shin Min
Hyuk melihat pula bagaimana seorang Jo Woo Young yang selama 3 tahun menganggap
pasiennya itu sudah meninggalkan dunia untuk selama-lamanya, akan merasa lebih
miris lagi. Dia yang berdiri di hadapan pemakamannya itu adalah untuk
memperingati tahun ke-3 kematiannya, sama sekali tak tahu kalau adiknya sendiri
masih mempertahankan tubuhnya di tempat lain. Bahkan tiap kedatangannya kemari
selalu saja ada kata, “Mianhae. Aku tak bisa mengajak Woo Hyun. Kau tahu kan?
Dia belum bisa menerima kematianmu sepenuhnya.” Yang diingatnya adalah saat itu
ia masih di Mokpo. Tentu dalam menjalankan tugasnya sebagai penyidik negara.
Hari itu ia menerima telpon dari kakak Seok Ryeong.
“Kau di mana sekarang?”
“Aku sedang bertugas di
Mokpo, Hyung. Ada apa?”
“Woo Young~a… Woo
Young~a…” dan hanya suara isak tangis yang terdengar darinya. Hari itu juga Woo
Young kembali ke Seoul. “Seok Ryeong, dia meninggal karena sebuah kecelakaan,”
penjelasan naas ini membuat hatinya hancur selama perjalanan pulang. Saat ia
sudah sampai di rumah duka, foto besar Seok Ryeong sudah ada di ruangan utama
dengan karangan bunga besar serta beberapa sesajian di bawahnya. Isak tangis
keluarga, sanak saudara, dan teman-teman melemaskan kakinya melangkah masuk ke
sana. Sedang Woo Hyun hanya diam melihat kedatangannya. Woo Young yang begitu
terpukul tak bisa mengeluarkan suara sedikit pun. Sedang tangisnya tiada henti
mengalir. Woo Hyun yang menyembunyikan kebenaran soal Seok Ryeong bungkam.
Seharusnya ia ikut menangis, tapi ia tak menangisi orang yang belum mati.
Sekuat tenaga ia bertahan, walaupun terlalu sakit melihat cincin masih
bertengger manis di jari manis kakaknya. Sedang milik Seok Ryeong ia genggam
kuat-kuat.
Sebagai kalimat penutup
tiap kunjungannya, Woo Young akan mengatakan, “Maaf, ya? Sampai sekarang aku
belum menemukan cincinmu.” Sedangkan Woo Hyun selalu meminta, “Kumohon,
bertahanlah sebentar lagi, Nuna. Sebentar lagi, dan aku akan mempertemukanmu
dengan Woo Young hyung dan kau akan sembuh dan segera menikah dengannya. Oke?”
dan untuk kedua orang itu, sama sekali tak ada tanggapan yang akan diberikan
oleh Eun Seok Ryeong.
Sebelumnya Selanjutnya
[8] Imbuhan ~nim biasa berada
di belakang panggilan profesi untuk lebih menghormatinya, atau dalam situasi
formal