Korea Selatan, Seoul, Gangnam Gu (Distrim Gangnam), Apgujeong Dong (Lingkungan Apgujeong). Kawasan elit dengan gedung-gedung pencumbu langit. Dengan atap untuk memejamkan mata yang harganya adalah sedalam palung lautan. Dengan pakaian orang-orang yang nampak hanya kain dibalutkan di tubuh saja, bisa melejit tinggi statusnya saat di tempatkan di tempat lain. Dengan serpihan-serpihan kayu atau bahkan sampah yang bisa disandingkan dengan emas. Daerah metropolitan, dengan orang-orang berdompet bengkak, atau dia-dia yang punya kotak tumpukan bata yang dijadikan sandaran bagi orang-orang yang butuh sebutir nasi setiap harinya. Kalau kau punya satu rumah ukuran paling kecil saja di sana, bisa dipastikan kau akan dicap sebagai orang berduit segunung. Tak pandang apa kerjanya, dan tak pandang pula bagaimana cara mendapatkannya.
Hyo Kyung saja masih tak habis pikir dengan berlebihan-lebihannya orang-orang di sini. Meskipun ia telah berulang kali melewati jalanan Apgujeong Dong, ia masih sempat menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia akan dengan senang hati mendesah perlahan melihat orang-orang seolah dengan sangat mudahnya berbagi emas berlian di pinggir-pinggir jalan. Ia tak bisa bayangkan, bagaimana mereka dapat memuntahkan uang dengan mudahnya hanya untuk bisa hidup di tempat ini.
Meski pun orang yang dicintainya tinggal di kawasan ini, ia tak pernah sedikit pun berpikir untuk mengais rejeki di tempat ini. Kalaupun ia punya uang banyak, maka tempat yang akan dipilihnya adalah kawasan paling murah, dengan biaya hidup yang cukup rendah. Hingga ia bisa menghabiskan uangnya dalam waktu lama. Tak ada secuil pun mimpinya tinggal di Apgujeong Dong, atau Dong manapun yang ada di Gangnam Gu.
Taksi yang ditumpanginya berhenti di depan pelataran gedung berlantai 12 yang mengoleksi ratusan jendela di setiap sisinya. Dua pohon besar di depan seolah membentuk gerbang masuk. Sekian kali, ia telah sekian kali kemari. Tapi tampilan orang-orang dan bahkan cara mereka meludah saja masih tak bisa ia masukkan ke akal. Dikoceknya isi dompet. Ia mendesis perlahan. Andai saja ia bisa naik bis biasa di sini. Mungkin dia akan memilih itu. Dicibirkannya bibirnya melihat dompetnya kian menipis.
Meskipun berjalan di antara orang-orang berpeluh elit ini, Hyo Kyung sama sekali tak merasa minder. Justru ia menyayangkan semua yang mereka keluarkan hanya untuk mendapatkan kain-kain yang mereka sebut pakaian itu. 'Hh…' Hyo Kyung lebih memilih membeli rumah daripada membeli baju serupa dengan mereka. Lupakan soal kemegahan semua ini! Dia harus masuk ke dalam untuk mengurangi isi wadah bekal yang ia bawa sekarang.
Gedung ini adalah sebuah galeri lukis. Ya, di lantai 1 sampai 3 tak ada perabotan seperti meja atau kursi seperti di lantai 4 dan seterusnya. Hanya beberapa meja kecil tinggi untuk menaruh vas dengan bunga yang tiap harinya selalu diganti. Di depan ada meja resepsionis, dengan pegawai-pegawai berseragam sama. Dinding putih itu sudah digantungi bermacam-macam bentuk lukisan yang tak pernah ia mengerti sedikit pun. Kalau saja ia penikmat lukisan, dia akan dengan senang hati menaiki anak tangga hingga ke lantai 4. Tapi tidak. Lagi pun ia sudah terbiasa langsung menuju ke ruangan sempit itu. Tak ada nafsu mendekati orang-orang, dari segala umur dan jenis kelamin, hanya saja masih dalam status sosial teratas, yang menatapi lukisan itu seperti orang lapar yang berada di depan toko jjajangmyeon. 'Ssh!' Desisnya buru-buru masuk ke dalam lift.
Lantai 4, klik. Satu-satunya lantai yang hanya berisi satu ruangan besar dengan satu halaman depan sebagai tempat sekretarisnya. Di sanalah Kim Tae Soo, kekasihnya berada. Dia adalah bos untuk galeri ini. Ini adalah salah satu gedung yang ia punya. Ia sendiri tinggal di apartement yang ada di lantai 12. Untuk lantai 7 sampai 11 berisi apartemen-apartemen mewah yang ia sewakan. Sedangkan di lantai 4 sampai 6 adalah lantai kerja. Lantai 4 adalah ruangan Tae Soo, lantai 5 ruang pertemuan dan ruang kerja pelukis-pelukis anak didik Tae Soo, lantai 7 aula besar yang biasanya dijadikan untuk seminar lukis, atau pelelangan lukisan dari seluruh penjuru Korea. Ah, dan ada sebuah cafeteria besar yang ada di lantai 5. Selain itu, ia sudah menyebar seluruh cabang galerinya ke seluruh Dong yang ada di Gangnam Gu dan juga Seoul. Sebagian besar lukisan di bawah tadi adalah lukisannya. Memang tak seterkenal Picasso. Tapi, dia berhasil menjadi pelukis paling sukses se-antero Korea Selatan. Ah, atau mungkin se-Asia. Karena beberapa kali pula ia mengadakan pameran di luar negeri yang masih dalam lingkup benua Asia. Atau lebih? Ah, entahlah! Hyo Kyung tak pernah bertanya-tanya soal itu.
Hanya beberapa menit sampai lift terbuka. Yang dilihat pertama kali di mata Hyo Kyung adalah seorang pria yang berniat menggantikannya di dalam lift. Wajahnya nampak asing. Walaupun penampilannya biasa saja, hanya setelan jas abu-abu dengan kemeja putih dan dasi hitam. Tapi Hyo Kyung bisa merasakan aura mengerikan darinya. Sampai pria itu sudah masuk ke dalam lift, Hyo Kyung menyempatkan dirinya untuk berbalik. Sekali lagi ia ingin melihat rupa orang itu. Bagaimana bisa orang dengan tampilan biasa saja tadi bisa berarura seperti itu? Nyaris pintu lift tertutup, adalah matanya yang menjawab pertanyaan Hyo Kyung. Tatapannya… sedikit mengerikan.
Tak ingin tertegun lebih lama karena pria tadi, Hyo Kyung melanjutkan langkahnya. Sekretaris, Min Soo Min, masih sibuk dengan telponnya. Ia hanya tersenyum pada Hyo Kyung. Lantas satu orang lagi yang membuat Hyo Kyung berhenti sebentar. Tampilan Sekretaris Min tak seperti biasanya. Dia nampak pucat. Terlebih dengan lingkaran hitam besar yang menggandrungi matanya. Kenapa, ya? tanyanya seorang diri. Tapi toh ini bukan urusannya. Jadilah yang harus dilakukannya adalah melanjutkan misinya.
Satu ruangan di sana yang ia masuki. Ada pria ber-tuxedo serba putih yang berdiri membelakanginya. Tepatnya menuju ke luar jendela. Mungkin ia menatapi kemegahan Apgujeong Dong. Atau malah lebih luas lagi, Gangnam Gu. Dia bisa melihat orang-orang dengan masing-masing kesibukannya di bawah sana. Kecil-kecil. Dengan rambut yang mayoritas hitam. Kalau ia bisa lebih perinci lagi, ia bisa melihat beberapa orang asing yang ada di sana. Tengah berkunjung, kemudian disilaukan dengan betapa gilanya kemewahan di Dong ini. Atau sekedar menjajal bagaimana suasana kehidupan orang-orang Korea yang sering dimunculkan dalam drama-drama internasional.
“Oppa (panggilan kakak laki-laki untuk wanita atau panggilan sayang untuk kekasih laki-laki)!” panggil Hyo Kyung setelah menekuk bibirnya serupa bulan setengah itu. Ada lekuk kecil di sudut bawah bibirnya. Ia tampak manis berekspresi seperti itu ketimbang dengan ekspresinya tiap kali menatap orang-orang di Gangnam Gu.
Pria yang tak lain dan tak bukan adalah Tae Soo itu lantas berbalik. Dipastikannya dulu bahwa yang ia dengar memang suara kekasihnya. Ia belum sempat membalas senyuman itu, tapi gadis itu sudah memeluknya begitu erat. Tak sempat pula dibalasnya, karena Hyo Kyung keburu melepaskannya.
“Kau belum makan siang, kan?” tanyanya. Tanpa menunggu jawaban dari Tae Soo, ia berlari kecil ke sofa. Menggelar wadah bekalnya di atas meja. Satu wadah di tingkat paling atas yang keluarkan. Satu wadah di bawahnya masih ia biarkan di dalam bungkusnya. Begitu pula dengan teremos alumunium kecil di sebelahnya. Wadah hijau muda yang sudah ia buka tutupnya itu berisi beberapa potong kimbab.
Tae Soo mendekat. Ia tersenyum melihat isi dari wadah itu. Jadi hanya inikah makan siangnya? “Kau hanya membuat kimbab (nasi isi daging, sosis, atau telur, dan sayuran yang digulung dengan rumput laut kering)?” tanyanya datar seraya mendaratkan pantatnya ke sofa di sebelah duduknya Hyo Kyung. Pertanyaan datar ini membuat kepala Hyo Kyung menoleh. Sedikit ia merasa bersalah, menyajikan kimbab murahan seperti ini untuk penghuni Apgujeong Dong. Pemilik galeri lukis terbesar di Korea Selatan. Pemilik saham tertinggi di beberapa sekolah swasta elit di seluruh kawasan Seoul. “Ah… apa makan siang ini terlalu murahan untukmu?” tanyanya pasang tampang tidak enak. Tapi nyatanya, Tae Soo hanya mengedikkan bahunya.
“Kalau yang membuat kekasihku, itu akan jadi makanan termahal yang di jual di restauran bintang lima yang ada di Gangnam Gu.” Ini hanya rayuan gombal dengan nada yang datar. Tapi semburat merah langsung terbubuh di kedua pipi Hyo Kyung begitu mendengarnya. Tiba-tiba ia merasa kepanasan. Dengan AC yang bertiup manis mengalahi suasana sejuk musim semi di pagi hari ini. Tak ingin bersikap berlebihan, tentu dengan semua harga dirinya itu, Hyo Kyung hanya tersenyum sedikit. Kalau ada Edward Cullen, si vampire pembaca pikiran di film fenomenal Twilight itu, maka terdengarlah teriakan melalangbuana dari otak Hyo Kyung.
Hyo Kyung hanya memberinya satu suapan. Setelahnya Tae Soo memakannya sendiri. Sedang matanya tak lepas dari dua wadah yang masih tersisa di sebelahnya. “Itu apa?” tanyanya.
“Ah… ini? Ini kimchi (sawi putih yang difermentasi dengan saus ssamjang) dan miyeok guk (sup rumput laut) untuk Ki Jae,” jelas Hyo Kyung.
“Miyeok guk?” sepertinya makanan yang biasanya disajikan di hari ulang tahun orang-orang Korea ini mengundang pertanyaan dari Tae Soo. “Ki Jae ulang tahun?” tebaknya yang langsung dijawab dengan anggukan kepala dari Hyo Kyung. “Seharusnya kau memberitahuku. Maka aku akan memberikan beberapa kado untuknya,” sesal Tae Soo, mengingat Ki Jae adalah adik laki-laki Hyo Kyung. Rasanya sayang sekali kalau dia tak mengambil kesempatan ini untuk sedikit memberi perhatian pada satu-satunya keluarga Hyo Kyung yang tersisa.
“Tidak usah. Kau kan tahu, dia sendiri membenci hari ulang tahunnya. Aku pun hanya memberinya ini. Kalau mau memberi kado, saat natal saja,” balas Hyo Kyung dengan senyuman tipis. Sedikit menyakitkan rasa senyuman itu. Mungkin ada pertanyaan lebih di otak Tae Soo. Namun ia memilih diam. Tak mudah membuat Hyo Kyung untuk menjelaskan lebih pasal keluarganya.
Tinggal tersisa 2 potong lagi, Sekretaris Min masuk. Hyo Kyung sempat melirik roknya yang terlalu pendek menurutnya itu. Cemburu? Tentu saja. Apalagi di lantai ini hanya ada Sekretaris Min dan Tae Soo saja, kan? Ia mungkin percaya seutuhnya pada Tae Soo. Dan ia pun mungkin sepenuhnya percaya pula dengan Sekretaris Min yang biasanya memang sangat baik padanya. Tapi tetap saja…
“Silyemhamnida, Sajangnim (Permisi, Presdir),” ucapnya begitu masuk. Tangannya membawa beberapa berkas yang sepertinya harus ditandatangani Tae Soo hari ini. “Ini berkas-berkas untuk hari ini.” Dengan sopan ia menyodorkan berkas itu. Hyo Kyung tak tertarik. Karena pun ia tak akan mengerti pula jika membacanya. Hanya saja, yang ia perhatikan adalah raut wajah Tae Soo. Dengan dahi berkerut dan selanjutkan memunculkan senyum separuhnya –ujung bibir yang terangkat ke sebelah kanan. Hyo Kyung sempat bingung melihat tatapan Tae Soo menyusuri ujung kaki Sekretaris Min sampai ujung kepala. 'Apa yang dilakukannya?' Pikirnya. Tapi begitu mendengar pertanyaan, “Apa kau mengalami masa-masa yang sulit akhir-akhir ini?” barulah ia paham. Tae Soo yang baik hati memang seperti ini, bukan? Selalu memikirkan keadaan pegawainya.
“Ne (Ya, dalam bahasa formal)?” nampaknya Sekretaris Min belum begitu paham maksud dari bosnya ini. Melihat Tae Soo yang tiba-tiba bangun dengan salah satu berkas itu, ia sedikit takut. Terlebih melihat wajah dingin yang tak biasa tertempel di wajah tampan Kim Tae Soo.
“Ini… berkas kemarin yang sudah kutandatangani.” Dingin di wajahnya mencair. Senyum separuhnya pun berubah menjadi senyum bulan sabit dalam waktu singkat. Sekretaris Min mencoba mengontrol perasaannya sendiri. Barulah ia terima sodoran berkas yang diberikan Tae Soo padanya. Matanya mendelik melihat tanda tangan Tae Soo di bagian paling bawah kertas itu. Apa yang dilakukannya? Bagaimana bisa ia tak melihat berkasnya dulu?
“Jeoseonghamnida, Sajangnim. Jeoseonghamnida (Saya mohon maaf, Presdir).” Sekretaris Min menunduk dua kali, persis 90 derajat. Ia benar-benar sudah berbuat salah. Terlalu ceroboh dirinya saat ini. Cocok benar dengan tampilannya hari ini. Serta raut wajahnya yang seolah kehilangan banyak energi.
“Ani (tidak). Gwaenchana (tidak apa-apa). Kudengar kau baru saja putus dengan kekasihmu kemarin. Keadaanmu hari ini benar-benar kacau. Sebaiknya kau istirahat dulu. Ah… datanglah lagi jam 3 nanti.” Tae Soo kembali duduk. Mendengar hal itu, Hyo Kyung tersenyum. Bukankah kekasihnya adalah orang paling berhati malaikat yang pernah ada? Mana ada bos yang menyuruh pegawainya istirahat selama 3 jam di tengah jam kerja? Terlebih sampai tahu apa yang sudah terjadi dengan pegawainya hingga melakukan kesalahan kerja. Tak terpikir oleh Hyo Kyung bahwa pria ini akan bersikap sedemikian baiknya.
“Ne?”
“Tae Soo Oppa benar, Min Biseo (Sekretaris Min). Melihat wajah dan kondisimu, serta kerjamu yang salah ini, tak ada salahnya kau istirahat dulu,” Hyo Kyung menimpali. Sedangkan Tae Soo sudah kembali duduk. Ia tak melihat sedikit pun ke arah Sekretaris Min saat wanita dengan rambut yang dikucir rapi itu menatapnya lagi. Meminta kepastian. Ia malah melahap dua sisa kimbab terakhir. Hanya saja, karena kode dari Hyo Kyung ia menyetujui hal itu. Lantas ia keluar dari ruangan. Dengan perasaan bingung sekaligus senang. Dia dapat jatah istirahat selama 3 jam. Meskipun ia tahu itu tak akan berpengaruh. Karena toh hatinya baru saja patah. Masih sangat sulit untuk menyatukannya kembali.
Sembari beberes, karena makan siang Tae Soo pun sudah selesai, Hyo Kyung mencoba membahas pria yang berpapasan dengannya tadi. “Apa tadi ada pria berjas abu-abu datang kemari?” tanyanya. Tae Soo nampak mengerutkan keningnya. Sepertinya ia lupa. Tapi tak lama. “Ah… pria tadi? Ya. Wae geurae (Ada apa)?”
“Nuguseyo (Siapa)?”
“Jangan tanya!” tegas Tae Soo tiba-tiba. Rasanya sama seperti dengan ekspresi wajahnya tadi, dingin. Hyo Kyung cukup terkejut mendengarnya. Ia belum sempat melihat bagaimana raut wajah Tae Soo saat mengucapkan kalimat itu. Begitu ia menengok, ia langsung berpikir bahwa ia mungkin salah dengar. Karena senyuman Tae Soo saat menjawab, “Karena aku tak mau dia merebutmu dariku. Kau terlalu cantik,” jauh dari apa yang ada di pikirannya. Tae Soo tetaplah presdir yang kaya dan baik hati. Dengan wajah tampan layaknya selebriti yang operasi plastik paling mahal yang memiliki hati malaikat. Siapa yang tidak bisa terpikat dengan senyumnya yang sepaket dengan kedua lesung pipi itu? Bahkan Hyo Kyung merasa kalah manis darinya.
“Baiklah. Aku pergi dulu, ya?” pamit Hyo Kyung sebelum pergi. Tae Soo hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Setelah kepergian Hyo Kyung, ia menyeruput kopi, yang sudah mendingin di meja kerjanya.
“Ah…” desahnya menikmati rasa pahit khas Americano.
***
Ki Jae membuang nafasnya cukup kasar berulang kali. Seharusnya ia tak keluar. Seharusnya ia abaikan saja saat Hyo Kyung menyuruhnya datang ke taman di depan sekolahnya. Taman mungil di daerah Songpa Gu ini tepat berada di depan sekolahnya. Hanya butuh sepuluh langkah untuk sampai di depan gerbangnya. Tapi bukan karena harus keluar kelas tiba-tiba, meninggalkan rutinitasnya mengunjungi perpustakaan, yang membuatnya dongkol karena sudah sampai di sini. Tapi karena miyeok guk yang dibawa Hyo Kyung. Persis seperti yang dikatakan Hyo Kyung saat di tempat Tae Soo tadi, Ki Jae membenci hari ulang tahunnya.
“Makanlah!” titah Hyo Kyung. Ki Jae sebenarnya ingin protes. Melancarkan aksi penolakan keras atas miyeok guk itu. Yang jadi bahan pertimbangannya adalah wajah lelah kakaknya, serta tak adanya nyanyian selamat ulang tahun. Itu cukup untuk menahan rasa sebalnya pada Hyo Kyung.
Ki Jae biasanya diam saat makan. Hanya saja, ia cukup heran kenapa kakaknya ada di sini. Ini hari Sabtu, dan seharusnya ia menjaga toko mereka yang hanya buku tiap akhir pekan dan malam hari saja. “Kau… kau menemui Kim Tae Soo lagi?” sontak mendengar Tae Soo tanpa embel-embel hyung di belakangnya itu mata Hyo Kyung mendelik. “Kau pikir siapa Kim Tae Soo itu, hah? Temanmu?!” sentaknya keras. Ki Jae hanya bisa mencibirkan bibirnya. Tapi ia pun mengulang pertanyaannya. Walaupun sebenarnya ia sendiri sudah tahu, kakaknya ini pasti sudah bertandang ke pria metropolitan yang ia tahui sudah 2 bulan menjalin hubungan dengan kakaknya.
“Eoh (Ya, bahasa tidak sopan)!”
“Kau… berhentilah menemuinya! Apa kau tak pernah berpikir, sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran laki-laki itu sampai mau mengencani wanita miskin sepertimu ini?”
“Ya (Hei)! Wanita miskin ini adalah nuna-mu (Kakak perempuan bagi laki-laki), tahu!”
“Apapun itu! Tidak ada orang kaya yang berhati tulus, tahu! Apa yang sudah kau berikan padanya sampai dia mau menggandengmu ke seluruh penjuru Gangnam Gu, hah? Kau… apa kau menjual keperawananmu?”
“Oh, astaga!” tangan Hyo Kyung yang kesal, ingin benar rasanya mengucir bibir adiknya yang kurang ajar ini, beralih ke rambutnya sendiri. “Kau ini! Apa kau kira nunamu ini pelacur, hah?! Kau selalu berpikiran buruk tentang Tae Soo Oppa. Padahal dia selau mengkhawatirkanmu!” cibirnya pedas.
“Aku tak butuh perhatiannya! Sebaliknya, apa dia baik padamu?”
“Tentu saja! Kalau dia tidak baik padaku, untuk apa aku masih menjalin hubungan dengannya sampai sekarang, hah?!” kali ini Ki Jae diam. Jika memang benar kata-kata kakaknya soal Tae Soo yang memperlakukannya dengan baik, maka itu sudah lebih dari cukup. Meskipun berkali-kali ia berpikir keras juga. Kenapa orang sekaya Kim Tae Soo bisa menggaet orang pinggiran Songpa Gu, yang hanya punya toko kecil hasil peras keringat sendiri dan bekerja di perusahaan penerbitan di Amsa Dong, Gangdong Gu ini? Apalagi melihat tampang kakaknya yang tak ada cantik-cantiknya sedikit pun, menurutnya. Bentuk tubuhnya pun tak ada yang menarik sedikit pun. Diperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kuku ibu jari juga, kakaknya itu triplek. Mananya yang membuat pria itu tertarik?
Baru setengah sebenarnya Ki Jae memakan bekal yang ia bawa. Apalagi miyeok guknya pun hanya seteguk yang dimakan Ki Jae. Hyo Kyung sudah terlanjur kesal. Dia pun tak ingin meninggalkan tokonya terlalu lama. Bukankah uang cukup berarti untuknya? Buru-buru ia memberesi semuanya. “Cepatlah lulus, dan bantulah nunamu ini di toko!” pesannya setelah berdiri.
Ki Jae malah memadanginya sebal. “Berapa kali kubilang padamu? Itu tokomu! Dan aku tak mau menjadi pegawaimu!” ia ikut-ikutan berdiri. Tingginya 1 cm di atas Hyo Kyung. Sebab itu pulalah Hyo Kyung bisa memukul kepalanya keras-keras.
“Lalu kau mau apa, hah?! Tidak lulus-lulus dari SMA atau bagaimana?!”
“Hah, nuna! Sudah kukatakan berapa kali? Jangan pukul kepalaku! Kalau aku berubah menjadi jelek, kau benar-benar tak akan kumaafkan! Kau tahu kan aku akan menjadi idol. Aku akan ikut audisi dan menjadi artis internasional, mengalahkan Super Junior!”
Plak! Sekali lagi Hyo Kyung memukul kepala itu. “Au, appo (Au, sakit)!” bahkan teriakan Ki Jae malah membuatnya berkali-kali lagi memukul kepalanya. “Keunyang gongbu jalhae!(Belajar sajalah yang benar!) Baca semua buku di perpustakaan dengan benar, maka kau bisa masuk ke Universitas!” kali ini, Ki Jae tak berteriak lagi. Mendengar kata universitas, ia selalu langsung terdiam. Yah, sebenarnya ia memang menginginkannya. Hanya saja, jika melihat kondisi kakaknya, tentu ia tak akan tega meminta lebih. Biaya sekolahnya saja sudah membuat mentalnya down dan menambah gurat keriput di wajah kakaknya yang semestinya belum pantas ditinggali keriput itu.
“Aku tidak akan pergi ke universitas. Banyak artis Korea yang tidak pergi kuliah,” ujarnya. Hampir saja Hyo Kyung kembali memukul kepalanya, kalau saja Ki Jae tak tersentak karena melihat seseorang berjalan masuk ke gerbang sekolahnya.
“Jo Seonsaeng (Guru Jo)!”
Hyo Kyung lantas berbalik demi melihat orang yang menyita perhatian Ki Jae. Bukankah itu pria beraura mengerikan tadi?
“Itu gurumu?” tanyanya penasaran.
“Ani (Tidak/Bukan). Dia hanya penjaga perpustakaan. Sudah satu minggu dia tidak masuk. Dan sekarang dia datang lagi. Kau tahu, Nuna? Dia adalah guru paling misterius dan paling tampan di sekolah. Itulah kenapa akhir-akhir ini, karena dia tidak masuk perpustakaan jadi sepi sekali. Karena gadis-gadis di sini menyukai pria tampan sepertinya. Yah… walaupun tak setampan aku,” ujar Ki Jae menyombongkan dirinya sendiri. Hyo Kyung kehabisan nafsu untuk memukulnya lagi. Selepas mencibirkan bibirnya, ia pun pergi. Membiarkan Ki Jae yang masih menatapi punggungnya dan mendesah perlahan.
***
Bus biru mulai berjalan pelan ketika mendekati halte. Pemberhentian Hyo Kyung untuk menuju ke rumah. Ia turun dan beberapa orang masuk bergantian dengannya. Rasanya kakinya sungguh penggal. Seperti ada beberapa orang yang menggandulinya. Untuk melepas rasa sakit ini barang sejenak, ia duduk sebentar. Melepas heels-nya dan menatap beberapa mobil yang lalu lalang di depannya. Mengepulkan asap tipis yang tak nampak sama sekali kalau sudah mencemari atmosfer bumi. Masa bodoh dengan itu semua. Hyo Kyung tak begitu peduli. Yang penting pegal di kakinya menurun.
'Jam berapa kira-kira sekarang?' Hyo Kyung berniat melihatnya di ponselnya. Tapi, ponselnya tak ada. “Oh, aku taruh di sini tadi,” ujarnya mengacak-acak isi tasnya. Tetap saja nihil. Dia celingukan. Mencari orang yang bisa membantunya. Ada seorang haksaeng (murid SMA) yang sedang memainkan ponselnya sambil berdiri. Hyo Kyung mendekat. Meminta belas kasihan barang sebentar. Mengesampingkan harga ponsel itu, ia khawatir saja Tae Soo atau Ki Jae tidak bisa menghubunginya nanti.
“Maaf, boleh aku pinjam ponselnya sebentar? Ponselku baru saja hilang,” jelasnya. Haksaeng itu menatap tampilannya sebentar. “Oh, ya. Silahkan,” tuturnya memberikan ponselnya itu.
Ditekannya beberapa digit nomor ponselnya. Tak kunjung terjawab. Apa ketinggalan di bus? Tapi tadi dia tidak merasa menggunakannya. Ah, sepertinya mulai dari pertama naik bus tadi dia tak memegang ponsel. Apa tertinggal di…
“Oh, yeoboseyo(Oh, halo)?” seseorang mengangkat panggilannya.
“Oh, Hyo Kyung~a (akhiran ~a untuk panggilan dengan akhiran huruf konsonan sedangkan untuk huruf vokal menggunakan akhiran ~ya)!” eh… suara ini ia mengenalnya. Tunggu! “Tae Soo Oppa?” tebaknya.
“Iya. Ini aku.” Suara Tae Soo terdengar makin jelas setelah tadi baru samar-samar.
“Apa ponselku di kantormu?”
“Iya. Kau meninggalkannya di sini. Apa kau mau kembali? Sekalian aku mau memberimu surprise.” Dahi Hyo Kyung berkerut. Tak terlalu paham dengan maksud surprise dari Tae Soo. Padahal tadi kan baru saja bertemu. Kalau memang mau memberi surprise, kenapa tidak dari tadi saja?
Namun rasanya sia-sia berpikir terlalu banyak di telpon. Terlebih haksaeng itu sudah meminta ponselnya dengan halus. Sedikit lagi panggilan ini harus segera diakhiri. “Ne, Oppa. Aku akan segera ke sana.” Selesai. Seharusnya tadi ia bertanya surprise apa yang dimaksud. Hanya saja haksaeng ini sudah dapat jemputan. Terpaksa, ponsel pinjaman itu harus dikembalikan.
Menunggu bus lagi, Hyo Kyung mendesah perlahan. Tapi kalau mau sampai langsung ke galeri, bukankah memang harus naik taksi? Kalau naik bus, bus kuning entah berapa lama lagi tibanya. Belum lagi nanti dia harus berjalan dari halte sampai ke galeri. Rasa pegal, sakit sekaligus perih di kakinya membujuknya untuk memanggil taksi. Kali ini dompetnya yang harus dikorbankan.
Sementara menunggu kedatangan Hyo Kyung, usai menerima panggilan dari Hyo Kyung tadi, senyum separuh Tae Soo terbentuk. Sesaat, mungkin hanya berjarak dua detik, Sekretaris Min masuk. “Anda memanggil saya, Sajangnim?” raut bingung dari wajah Sekretaris Min. Baru juga sepuluh menit yang lalu ia masuk untuk mengantar berkas yang benar, sekarang dipanggil lagi untuk masuk.
“Oh, Min Biseo. Bisa tolong… kau ambilkan pisau dapur di cafeteria yang ada di lantai 5?”
***
Hyo Kyung masuk ke dalam lift. Sekali lagi ia sendirian. Pengunjung lebih suka menghirup dalam-dalam aroma cat kering di setiap lukisan di lantai 1-3, dengan menggunakan tangga pula. Hyo Kyung pernah mendengar dari Tae Soo, ia sengaja memasang banyak lukisan yang lebih unik di sepanjang dinding tangga. Agar selama menaiki anak tangga, letih tak mendatangi. Pemandangan seni yang artistic dapat menghanguskan rasa pegal di kaki.
Sekali lagi, Hyo Kyung tak peduli. Yang disukainya adalah Tae Soo, bukan lukisannya. Jadi lift adalah alternatif yang nyaman baginya. Kalau pun tak ada orang, tak masalah. Naik lift pun tak ada peraturan resminya untuk berdua.
Lantai 2, lantai 3, lantai 4… ting! Pintu terbuka. “Oppa!” panggilnya. Dua kakinya telah keluar dari lift itu. Tae Soo pun sebenarnya ada di atas kursi. Duduk menyilang kaki dengan buku gambar dan pensil di tangan kirinya. Jika ini adalah tadi siang, maka ia akan menghambur ke pelukannya. Jika ini adalah tadi siang, tak perlulah dia tertancap saja di sana. Jelas ada sebabnya mengapa sampai ia seperti itu. Jika kau pandang ruangan ini lebih jelas, ada sesuatu yang dijadikan Tae Soo sebagai objek gambarnya. Jika sudah menginjak cairan merah kental yang perlahan mengalir ke bawah heels Hyo Kyung itu, pastilah tahu. Apalagi ditambah makin menyusuri sumbernya. Adalah sebuah tubuh yang tergeletak dengan pisau dapur yang tertancap di dadanya yang membuka lebar-lebar mata Hyo Kyung. Hampir saja jantungnya berhenti berdetak.
“Oh, wasseo (oh, sudah datang)?” balas Tae Soo. “Kau mencari ponselmu, kan? Ini, ambillah,” ponsel Hyo Kyung sudah ada di tangan Tae Soo. Yang dilihat Hyo Kyung adalah bentuk senyum yang sama yang seperti biasanya. Selama ini diartikannya bentuk itu adalah senyum malaikat. Tapi kali ini bentuk yang sama itu tak ada aura malaikatnya. Senyuman itu hambar. Lebih hambar daripada rasa nasi sekali pun. Mata yang biasanya berbinar dan kelihatan sangat ramah itu pun datar-datar saja. Keterlaluan mulus ekspresi kosong di wajah itu. Meskipun beberapa garis menunjukkan ekspresi yang seharusnya terlihat bahagia. Itu tak ada, tak ada ekspresi seperti itu di wajahnya. Tidak secuil pun!
“A… apa yang…” Hyo Kyung tergagap. Mulai ia sadar siapa orang yang tergeletak tanpa nyawa di lantai tak jauh dari Tae Soo itu. Suaranya parkir di tenggorokan. Sesekali ia mengambil oksigen dari mulutnya yang tak tahan membulat luas, karena hidungnya tak bekerja. Dan oksigen itu masuk pun tak dengan nyaman mengisi rongga-rongga di paru-parunya.
Senyum Tae Soo kembali terbentuk. Matanya mengikuti arah pandang Hyo Kyung. “Oh… Min Biseo. Dia membuatku cukup kesal sore ini,” penjelasan ini, sedatar apa pun nadanya, tak akan ada yang bisa mengerti. Kesal? Kemudian mati? Betapa mudahnya! “Kau ingat, kan? Aku menyuruhnya datang jam 3 tepat. Tapi dia 1 menit terlambat dari waktu yang kuperintahkan.” Setenang orang yang berjemur di tepi pantai Hawai, begitulah kira-kira gambarannya tiap kalimat dari bibir Tae Soo terucap. Hyo Kyung masih tak bersuara. Dia masih mencoba menjejalkan setiap kalimat, ekspresi, dan nada biasa saja dari Tae Soo ke dalam otaknya. Itu begitu sulit!
“Kudengar, dia putus karena kekasihnya mendapat yeoja (wanita) yang lebih cantik darinya. Aku akan membuatnya lebih cantik. Kau… tahu aku melukis sangat hebat, kan? Lukisanku dengan posisinya seperti itu akan sangat cantik. Dan ini surprise yang ingin kuberikan padamu. Kau pasti suka. Ahaha…” Oh, Tuhan! Bahkan dia tertawa. Tawanya tanpa rasa, tanpa penghayatan. Hanya seperti aktor dungu yang diminta membaca tulisan tertawa dan dibacanya begitu saja.
“Ka… kau… mem, membu… membunuhnya?” suara Hyo Kyung kembali terdengar. Dan sendat-sendat suaranya itu dicampuri dengan getaran. Tubuhnya seluruhnya sudah gemetaran. Tengkuknya sudah menyiapkan seluruh rambut di sana untuk berdiri. Makin menjadi-jadi pula saat Tae Soo hanya menggaruk hidungnya dengan ujung pensil yang runcing itu, sangat santai.
“Eo, eoh… Aku membunuhnya dengan pisau dapur yang dia ambil sendiri. Apa kau ada masalah dengan hal ini?” siapa yang bisa menanggapi pertanyaan gila ini? Membunuh orang, tak usahlah memikirkan dengan benda apa nyawa itu terbuang! Membunuh orang, adalah hak Tuhan! Dan dia dengan mudahnya menanyakan apakah ada masalah soal itu? Wajah malaikat Tae Soo hilang sudah dari benak Hyo Kyung selama ini. Tae Soo bukan malaikat. Tapi dia adalah monster!
Selanjutnya