Matahari sudah
seperempat meninggalkan puncak langit. Beberapa perkuliahan sudah berakhir.
Tapi ada juga yang lagi apes dapat kuliah sore. Termasuk kelas Falin. Dosennya
memang belum datang. Tapi mereka tidak bisa pulang. Dosennya sudah berpesan
pada ketua kelas untuk menunggu sampai setengah empat. Terpaksa mereka semua
tetap menunggu di dalam kelas.
Thursday, January 16, 2020
Timeline Book
Hujan baru saja reda.
Tapi air-air dari atap bangunan masih berjatuhan. Karenanya beberapa genangan
air terbentuk. Hujan tadi cukup deras. Tapi langit kelihatan begitu cerah
sekarang. Awan-awan hitam tadi sudah berpencar semua. Masih ada beberapa awan
putih yang bersemburat di langit biru. Hingga panasanya mentari terasa mulai
menyengat.
Flash Back End
Keluar dari kamar
Sandi, Derwan menghela nafasnya. Kepalanya menggeleng lemah saat Army bertanya
padanya, “Gimana?”
“Dia bener-bener udah
pulang duluan. Petugas villa dapet pesen dari dia, katanya kita boleh tinggal
selama yang kita mau,” jelas Derwan lagi. Gantian Army yang menghela nafasnya.
Sementara Derwan mencoba mengontak Sandi lagi, ia menatap Falin yang hanya
duduk di atas sofa. Bagaimana cara menggambarkan ekspresi bocah itu sekarang?
Ia hanya menatap layar ponselnya. Tapi Army yakin, ia tidak benar-benar fokus
dengan benda itu. Setelah pertengkarannya dengan Sandi semalam, Falin jadi
pendiam sekali. Wajah cerianya yang biasanya selalu nyantol di sana sama
sekali tidak ada.
Mengambil Mimpi Orang Lain
Penghujung semester empat. Tidak ada kuliah,
hanya sedikit kegiatan yang harus dirampungkan di hima. Sandi juga tak terlalu
aktif di hima jurusannya sendiri. Cintanya sudah ia curahkan semua ke Korek Ati. Paling-paling dia datang
kalau dibutuhkan saja. Selebihnya, ia akan mengungsi ke studio. Kalaupun hanya
untuk sekedar tidur, dia pasti akan lebih sering di sana.
Wednesday, January 15, 2020
Injury in Past
Menjadi bagian dari keluarga Sandi, meskipun
hanya sementara, rasanya hampir mengubah kebiasaan hidup Army. Bisa tinggal di
rumah yang sebegitu besarnya, meski hanya ber-tittle “numpang”, tak pernah terbayang di otaknya sejak pertama
kali ia mengerti dunia sampai saat ini.
Tidur di atas kasur yang ia pastikan
super mahal, dengan kamar luas dan perabot yang cukup lengkap, bahkan berlebih,
ibarat keong sawah yang biasanya bergumul dengan lumpur yang bau mendapat
cangkang baru yang terbuat dari emas. Amazing!
Arfa?
Sandi benar-benar tak kembali lagi setelah
pertengkarannya dengan Derwan. Terpaksa Army harus pulang sendiri ke rumah
Sandi. Tapi ternyata Sandi tidak lagi menginap di rumah temannya. Dia ada, dan
sudah terlelap di atas kasurnya. Army tak ingin mengusiknya, karenanya ia memilih
sofa.
Bagaimana Pertemuan Pertama Mereka?
Matahari hampir seperempat jalan menuju
puncak! gemilang cahaya. Mengukir cita, seindah asa... menuju puncak, ehem! Mulai dari awal!
Sandi, Password, atau Hint?
“My son!
Where are you? Mom and Daddy are coming!” teriakan dari pintu depan membuat
wajah Sandi yang tadinya tegang bukan main, karena ia sedang asik melawan Army
di dunia playstation di kamarnya
langsung ganti seratus delapan puluh derajat. Kalau Army tidak salah,
ekspresinya sekarang berubah jadi, sialan!
Apa, sih? Hadeuh... akhirnya datang juga, dan kata-kata tak mengenakkan
lainnya. Tadi Army juga sempat mendengar suara wanita yang melengking tajam.
Tapi ia tak menyangka kalau suara tadi akan terdengar lagi, bersamaan dengan
suara bulat laki-laki yang disusul dengan suara pintu kamar Sandi yang
terjeblak begitu saja.
Api Ati
Falin berjalan santai menuju kelasnya.
Beberapa kali kepalanya menoleh ke beberapa kelas yang sudah terisi penuh
dengan mahasiswa sejurusan dengannya. Sekali ia melihat jam tangannya,
memastikan jam kuliahnya masih cukup lama. Bahkan, ketika ia sudah masuk kelas
saja, belum ada satu orang pun yang nongol. Alhasil, ia duduk sendirian. Tempat
favoritnya, depan pojok kanan, dekat jendela.
A New Guy
“Oke, gue ke sana!” Sandi menutup telponnya.
Baru saja ia hendak memasukkan hp-nya itu ke dalam saku kemejanya, malah
setumpuk laporan yang tadinya mau dia bawa sementara dengan satu tangan saja
jatuh berserakan di lantai. “Ckk!” decaknya sebal pada dirinya sendiri. Mau tak
mau ia harus menyita sedikit waktunya untuk memungutinya kembali.
Omlet Setengah Matang in Breaking News
Falin berhenti sebentar. Kakinya otomatis
terdiam begitu melihat seseorang yang baru saja keluar dari ruang praktikum
Biologi di depan sana. Dengan balutan jas putih, terlalu sepadan dengan kulit
sawo matang cerahnya itu. Begitu sadar siapa pemilik wajah familiar itu, ia
lantas tersenyum.
Nafas Mawar
Meski mawar
merah ini adalah yang terakhir, tapi rasanya sosokmu masih jelas berada di
depanku. Menatapku nanar, dengan mata merah semerah kelopak bunga ini. Apa
durinya melukaimu? Apa durinya membuatmu berdarah? Aku begitu heran dan
sesegera mungkin ingin menanyakannya. Tapi apalah mampuku? Kau… sudah pergi.
Korek Ati
Ini bukan soal pertanyaan yang sejak tadi
muncul di hatinya. Bukan pula soal harus kemana ia menetapkan hatinya. Tapi ini
tentang hujan rintik di luar yang mulai menderas. Perlahan tanpa kilat ataupun
petir, rasa dingin ini menyambar ke balik kemeja setiap insan di bawahnya.
Menelusup manis di sela pori-pori dan menyapa titik kedinginan paling parah
yang pernah ada. Seharusnya semua merasakan dingin ini begitu menyengat. Tapi
entah kenapa, yang dirasakan gadis satu ini bukan itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)




