Tuesday, January 14, 2020

Heart Beat



Tlit… tlit… tlit…

Ya Tuhan! Betapa lemah detak jantungnya? Tak berdaya rasanya aku mendengarnya. Mengapa bukan aku saja yang menggantikan posisinya, Tuhan? Mengapa bukan aku saja yang Kau biarkan aku menerima apa yang dideritanya? Jangan dia, Tuhan! Bisakah aku memintanya sekarang?

Diary for a Kiss




"Bruk!"

"Oh, jeongmal mianhaeyo!" suara gadis ini terdengar parau. Mungkinkah ia baru saja menangis? Entahlah. Tak dapat dipastikan karena ia langsung menunduk begitu menabrak laki-laki yang hanya menatapnya memberesi bukunya yang berjatuhan ke tanah. "Mentang-mentang aku yang salah, dia sama sekali tak mau membantuku," rutuk gadis ini.

Hyung, Eoddiga?


"Ceklek!" Terdengar suara pintu di depan dibuka seseorang. Kemudian sesaat terdengar tertutup kembali. Suara langkah seseorang pun ikut menyusul. Tapi Minho enggan beralih dari tempatnya. Ia tak ingin merubah posisi silanya menghadap layar LCD di depannya. Tangannya sejak tadi sudah asik berkutat dengan stick PS. Tak peduli mau ada orang masuk, orang teriak, orang molor. Ia sudah lupa segalanya kalau sudah bersama benda itu.

Mianhae


Kwangmin hanya diam di bangkunya. Menatap sebal plus sedih kertas ulangannya. Pasalnya nilai yang tertera di dalam lingkaran merah paling atas itu sama sekali tak ia harapkan. Sudah lima kali ia mendapat nilai di bawah tujuh. Entah karena apa. Padahal ia sudah rela membabat beberapa jadwalnya untuk belajar. Tapi tetap saja hasilnya jauh dari kata memuaskan! 

As Your Words

>>> 

"Aku lebih baik mati daripada harus menyukainya."
 

***
 

Donghae terlihat begitu antusias memperhatikan permainan Hyuk Jae di bawah sana. Sampai-sampai Jae Hee yang duduk tepat di sampingnya hanya ia diamkan saja. Tapi untung saja Jae Hee tak melancarkan protes. Ia hanya tersenyum melihat Donghae yang sepertinya gemas ingin merebut bola dari kaki Hyuk Jae di sana.
 


Komunitas Anti Reason


“Nanti papa jemput ya, Sayang?”

“Gak usah kali, Pa.”

“Loh, kenapa? Kamu ya, mentang-mentang udah gede, maunya semuanya sendirian. Padahal kamu kan baru kemaren dapet KTP-nya, Sayang. Papa ni enggak rela loh kalo kamu gede terlalu cepet, loh. Udah, deh. Papa kan cuma mau jemput kamu. Apa sih salahnya?”

I Need You Reason


Ini kisahku. Kuawali dari sebuah kisah ketika aku menjejakkan kakiku di sebuah lingkungan baru bernama kampus. Aku anak tunggal. Jadi, aku tak punya saudara untuk mengenal apa itu kampus. Yang aku tahu tentang kampus hanya semua yang sering dimunculkan di tv-tv itu. Ke kampus, dengan segala jenis pakaian bebasnya, mobil, tugas, dosen, dan… pacar.

After Rainbow


“Dia nyesel, Ga. Sekarang dia beneran sayang sama kamu,” beberapa minggu setelah putus, Ega mendapatkan kata-kata ini. Kata-kata yang membuat Ega kembali kebingungan. Bingung dengan perasaannya sendiri yang dengan mudahnya mengiyakan kebenaran kata-kata ini tanpa harus menyelidiki kebenarannya terlebih dahulu. Dengan mudahnya ia kembali bersama Bunga. Sahabat-sahabatnya sebenarnya tak ada yang mendukungnya. “Gua pengen membuktikan kebenaran perasaannya,” dalihnya pada sahabat-sahabatnya itu.

Sulit Memaafkan


Hari ini tak ada jam kuliah. Dosen tiba-tiba saja check in ke dokter. Kelas itu terpaksa (dengan hati yang riang gembira) keluar dari kelas dan menghambur sembarangan entah kemana. Ega sendiri bingung harus bagaimana. Ia menghampiri beberapa temannya yang duduk di depan parkiran.

Jangan Marah


“Kamu ni bikin aku kesel, deh! Udah ah! Aku marah sama kamu!” sentak Febriel pada Ega. Entah karena apa temannya ini marah padanya dengan tiba-tiba.

“Yah, yah! Bil, jangan marah, dong. Kan aku cuma bercanda,” pinta Ega. Ia benar-benar tak bisa bila ada teman ceweknya yang marah dengannya.


First Love


Pulang dari kuliah, Ega bermaksud pergi sebentar ke pantai. Melepas lelah dan penatnya. Tapi, karena hujan turun, ia urungkan niatnya. Ia bahkan belum sempat pulang, hingga akhirnya ia berhenti di sebuah minimarket. Sambil menunggu hujan reda, ia kembali meletakkan headset-nya di kedua telinganya.

Mudahnya Bosan




Ini cerita soal perjalanan cinta temanku, Kharisma Ega Julianza. Untuk seorang teman, ia adalah teman baruku di kampus. Dia orang Lampung asli. Tapi, entah kenapa tampilannya lebih mirip seperti orang Jawa. Bahkan, kami sering menyebutnya “Lampung kemasan Jawa”.


Ah...